Malang , Program Studi Agribisnis UMM mengambil langkah berbeda dalam merancang proses pembelajaran. Alih-alih hanya menekankan aspek produksi dan pemasaran domestik, prodi ini mendorong hilirisasi pengetahuan agribisnis melalui keterlibatan pelaku industri dalam kelas. Bentuk terbarunya adalah kolaborasi strategis untuk penyelenggaraan Kelas COE Profesional Ekspor Agribisnis 2026.
Hilirisasi pendidikan menjadi isu penting dalam satu dekade terakhir. Dunia akademik tidak lagi cukup hanya menghasilkan sarjana, tetapi dituntut melahirkan talenta yang mampu bekerja, mengelola bisnis, atau membangun solusi pada sektor yang berkembang. Sektor agribisnis merupakan salah satu yang paling dinamis dengan peluang ekspor yang terus meningkat. Team Program COE Agribisnis Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P mengungkapkan bahwa kelas COE dihadirkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. “Praktisi ekspor adalah penghubung antara teori yang kami rumuskan di kelas dengan realitas dunia usaha. Mereka sudah bertemu buyer, menghadapi penolakan dokumen, hingga mengelola risiko logistik. Hal itu menjadi materi pembelajaran yang sangat kaya bagi mahasiswa,” jelasnya.
Pada 2026, sejumlah eksportir yang telah menembus pasar Jepang, Singapore, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Eropa dijadwalkan terlibat dalam modul pelatihan. Mereka akan mengisi kelas-kelas tematik yang mencakup market validation, trade compliance, digital export tools, hingga sertifikasi internasional seperti HACCP, FSMA, hingga organic certification yang terdapat pada mata kuliah yang disajikan. Mahasiswa akan difasilitasi untuk bekerja dalam tim, melakukan riset pasar nyata, membuat dokumen rencana ekspor, hingga mempresentasikan strategi kepada pelaku industri. Beberapa tim terpilih bahkan berpotensi meneruskan proyeknya melalui inkubasi bisnis kampus atau praktik langsung ke perusahaan mitra.
Pendekatan ini mendapat sambutan positif dari industri. Menurut salah satu praktisi DUDI yang terlibat, keterlibatan kampus dalam proses ekspor selama ini masih minim. Padahal, sektor agro-complex memiliki kebutuhan strategis terhadap tenaga analis, negosiator, dan manajer lapangan yang berpendidikan. “Mahasiswa perlu melihat lebih jauh dari sekadar panen. Pasar global menuntut literasi standar, literasi data, bahkan literasi geopolitik. Kampus seperti UMM memiliki peran strategis untuk mengisi kesenjangan itu,” tuturnya.
Dengan keterlibatan industri yang intensif, COE 2026 diperkirakan menjadi salah satu kelas dengan bobot paling kuat bagi masa depan lulusan, sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus vokasional-entrepreneurial di bidang agribisnis.
