Malang, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertegas komitmennya dalam menyiapkan SDM agribisnis yang adaptif, berdaya saing, dan memiliki orientasi global. Memasuki kalender akademik 2026, prodi ini sedang merampungkan persiapan Kelas Center of Excellence (COE) Profesional Ekspor Agribisnis, yang akan memasuki angkatan keempat.

Langkah ini hadir sebagai respons atas meningkatnya peluang agribisnis Indonesia di pasar internasional. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara eksportir agro utama di Asia Tenggara untuk komoditas seperti kopi, rempah, minyak nabati, dan pangan olahan. Namun, pelaku usaha kerap terkendala pada aspek teknis seperti dokumentasi perdagangan, kepatuhan standar mutu, logistik, serta segmentasi pasar global. Di sisi lain, tenaga kerja terlatih yang memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat terbatas.

Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc mengungkapkan bahwa pembukaan kembali COE pada 2026 merupakan bentuk konsistensi kampus dalam menjembatani ruang antara dunia akademik dan ekosistem ekspor. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran, tetapi menempatkan mahasiswa pada konteks rantai nilai global. Mereka belajar dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujarnya. COE edisi 2026 akan menghadirkan kurikulum yang memadukan tiga elemen utama, yakni pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, serta analisis penetrasi pasar internasional. Dengan skema tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami seluruh alur ekspor mulai dari potensi komoditas, standardisasi, legalitas, hingga pengiriman.

Lebih jauh, Agribisnis UMM memastikan keterlibatan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah beroperasi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lain dijadwalkan menjadi pengajar tamu sepanjang semester pelaksanaan. Melalui kelas ini, kampus berharap lahir generasi eksportir muda yang tidak hanya mengandalkan intuisi bisnis, tetapi menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi produk, hingga manajemen risiko global. “Era agribisnis ke depan meminta SDM yang mengerti konteks global mulai dari tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan, isu karbon, hingga preferensi konsumen di setiap kawasan,” tambahnya.

COE Agribisnis UMM kini menjadi salah satu kelas paling diminati karena mampu membuka dua kemungkinan karier sekaligus membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri melalui ekosistem pembelajaran dan inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan yang semakin matang, 2026 diproyeksikan menjadi tahun penting bagi COE angkatan keempat untuk berperan dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia.