Strategi Inklusif Agribisnis UMM Perkuat Ekonomi Keluarga Petani

Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan tim pengabdian Agribisnis UMM di Desa Kedungsumber menghadirkan strategi berbeda. Fokus utama kegiatan justru diberikan kepada ibu-ibu petani sebagai aktor kunci dalam pengelolaan hasil panen. Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam struktur sosial ekonomi pedesaan, perempuan memiliki peran signifikan dalam pengelolaan rumah tangga sekaligus aktivitas produktif pascapanen.

Dengan bekal pemahaman pengeringan dan perajangan tembakau, keluarga petani berpeluang meningkatkan posisi tawar di pasar. Ketergantungan pada tengkulak selama ini terjadi karena tembakau basah harus segera dijual sebelum rusak. Minimnya akses teknologi pascapanen membuat petani tidak memiliki ruang negosiasi harga.

Melalui program bertajuk “Pemberdayaan Petani Tembakau melalui Optimalisasi Teknologi Tepat Guna Berbasis Kearifan Lokal,” tim yang diketuai Wahid Muhammad Shodiq membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya hilirisasi sederhana namun bernilai ekonomi tinggi.

Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung dinamis. Salah satu peserta, Asik, mengaku baru pertama kali mendapatkan edukasi terstruktur mengenai peningkatan nilai jual tembakau.

Bagi Agribisnis UMM, kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi tridharma perguruan tinggi. Pendekatan berbasis riset dan pemberdayaan inklusif menjadi karakter khas yang membedakan kontribusi akademik UMM di tengah dinamika sektor pertanian nasional.