Permintaan Bawang Merah di Jawa Timur diprediksi Tetap Tinggi, didorong Konsumsi dan Dinamika Pasar Pangan
Malang – Komoditas bawang merah diproyeksikan tetap menjadi salah satu komoditas hortikultura strategis di Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan yang stabil bahkan cenderung meningkat dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga, kebutuhan industri pangan, hingga dinamika distribusi antarwilayah.
Pakar agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Ary Bakhtiar, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng, menilai bahwa bawang merah memiliki karakteristik pasar yang sangat dinamis namun tetap menunjukkan tren permintaan yang kuat, terutama di provinsi dengan aktivitas ekonomi dan populasi besar seperti Jawa Timur.
Menurut Ary Bakhtiar, permintaan komoditas bawang merah tidak hanya ditopang oleh konsumsi domestik rumah tangga, tetapi juga oleh sektor kuliner, industri makanan olahan, serta distribusi antarprovinsi. “Secara struktural, bawang merah merupakan komoditas strategis dalam sistem pangan Indonesia. Permintaan relatif stabil bahkan meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan berkembangnya sektor jasa makanan,” ujarnya.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa bawang merah termasuk komoditas hortikultura utama nasional. Produksi nasional pada tahun 2024 mencapai sekitar 2,08 juta ton, dengan enam provinsi sentra utama menyumbang 91,6 persen dari total produksi nasional. Jawa Timur sendiri menempati posisi produsen terbesar kedua dengan kontribusi sekitar 22,86 persen terhadap produksi bawang merah nasional.
Di tingkat regional, Jawa Timur juga dikenal sebagai salah satu basis produksi utama bawang merah. Kajian dalam jurnal agribisnis menunjukkan bahwa produksi bawang merah di Jawa Timur pada periode 2015–2020 memiliki rata-rata sekitar 352.908 ton per tahun, dengan tren produksi yang terus meningkat seiring meningkatnya permintaan pasar.
Ary Bakhtiar menambahkan bahwa dinamika harga bawang merah seringkali menjadi indikator penting dalam ekonomi pangan daerah. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa perubahan harga komoditas hortikultura, termasuk bawang merah, memiliki kontribusi signifikan terhadap inflasi maupun deflasi di Jawa Timur. Ketika produksi menurun, harga cenderung meningkat dan mendorong inflasi; sebaliknya ketika pasokan melimpah, harga dapat turun dan memicu deflasi.
Secara nasional, harga bawang merah juga menunjukkan tren fluktuatif namun tetap berada dalam rentang harga acuan pemerintah. Pada pertengahan 2025, rata-rata harga bawang merah tercatat sekitar Rp41.363 per kilogram, dengan kenaikan harga terjadi di lebih dari 41 persen wilayah Indonesia.
Berdasarkan dinamika tersebut, Ary memprediksi bahwa permintaan bawang merah di Jawa Timur akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Namun demikian, stabilitas produksi dan efisiensi rantai pasok menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan pasar.
“Ke depan, tantangan utama bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat sistem distribusi, logistik, serta efisiensi pemasaran. Dengan tata kelola agribisnis yang baik, Jawa Timur berpotensi menjadi pusat penguatan rantai pasok bawang merah nasional,” jelasnya.
Pandangan tersebut juga menunjukkan pentingnya penguatan riset dan inovasi di sektor agribisnis. Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang terus mendorong kajian ilmiah dan analisis pasar komoditas strategis sebagai kontribusi akademik terhadap pembangunan sektor pertanian nasional.
Melalui pendekatan ilmiah yang integratif menggabungkan analisis produksi, distribusi, serta dinamika pasar—para akademisi Agribisnis UMM berupaya menghadirkan perspektif berbasis data untuk mendukung kebijakan pangan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
“Peran perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan gagasan dan analisis yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan agribisnis nasional,” tutup Ary.
