Teknologi Tepat Guna Berbasis Kearifan Lokal Jadi Solusi Ekonomi Petani Tembakau

Produktivitas pertanian tanpa penguatan pascapanen berisiko menciptakan paradoks kesejahteraan. Fenomena inilah yang terjadi di Desa Kedungsumber, Bojonegoro sentra tembakau dengan produksi tinggi namun pendapatan stagnan.

Mayoritas petani masih menjual tembakau dalam kondisi basah. Akibatnya, nilai ekonomi yang diterima jauh di bawah potensi riil komoditas tersebut. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya kesejahteraan petani yang terancam, tetapi juga keberlanjutan regenerasi pertanian.

Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian blockgrant dari Agribisnis UMM hadir membawa model intervensi berbasis teknologi tepat guna dan kearifan lokal. Edukasi yang dilaksanakan pada 16 Februari 2026 menitikberatkan pada teknik pengeringan dan perajangan tembakau sebagai strategi peningkatan nilai tambah.

Secara akademik, intervensi ini merefleksikan pendekatan agribisnis terpadu mengintegrasikan aspek produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan demikian, petani tidak lagi terjebak dalam rantai distribusi yang timpang.

Desa Kedungsumber yang berada di wilayah selatan Bojonegoro dengan keterbatasan akses teknologi menjadi laboratorium sosial bagi implementasi keilmuan Agribisnis UMM. Di sinilah ilmu tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjelma solusi konkret.

Langkah kecil dari desa ini menjadi representasi komitmen Agribisnis UMM dalam membangun pertanian berbasis nilai tambah dan keberlanjutan. Sebab kesejahteraan petani tidak semata ditentukan oleh luas lahan, melainkan oleh kecerdasan dalam mengelola hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.