MALANG , Kinerja ekspor sektor agribisnis Indonesia menunjukkan tren positif dan menjadi bagian penting dari pencapaian surplus perdagangan nasional. Sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor komoditas pertanian tumbuh 38,25 persen, mencapai US$ 4,57 miliar, dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar US$ 3,30 miliar, menurut data resmi Kementerian Perdagangan RI. Lonjakan ini didukung oleh peningkatan permintaan global serta implementasi kebijakan perdagangan yang proaktif oleh pemerintah.
Demikian pula, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor non-migas Indonesia mengalami peningkatan 13,72 persen pada Desember 2025, dengan komoditas pertanian dan industri pengolahan berkontribusi besar terhadap naiknya nilai ekspor tahunan nasional. Namun di balik angka impresif tersebut, terdapat dinamika struktural yang perlu dicermati. Meski nilai ekspor agribisnis tumbuh, proporsi besar dari komoditas ini masih berupa produk primer atau setengah jadi, seperti minyak kelapa sawit mentah, kopi mentah, atau rempah. Pendek kata, Indonesia masih sering mengekspor raw materials alih-alih produk bernilai tambah tinggi yang dapat menyerap lebih banyak devisa dan menciptakan multiplier effect ekonomi yang lebih besar.
Hal ini sejalan dengan analisis global yang menegaskan bahwa negara berkembang banyak yang “terjebak” bergantung pada ekspor komoditas primer. Penelitian yang dipublikasikan oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyatakan bahwa meskipun komoditas agrikultur merupakan penggerak signifikan dalam perdagangan global, nilai tambahlah yang akan menentukan diversifikasi dan ketahanan ekonomi jangka Panjang.
KONTEKS NASIONAL: HILIRISASI BELUM OPTIMAL
Permasalahan nilai tambah ini terletak pada hilirisasi yang belum optimal. Pemerintah mendorong pergeseran mulai dari produksi bahan mentah ke produk olahan, dengan fokus pada tambahan nilai ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Rencana hilirisasi telah digulirkan untuk berbagai komoditas, termasuk kelapa sawit dan kelapa, yang produktivitasnya tinggi, namun masih banyak dipasarkan dalam bentuk dasar. Sebagai contoh, strategi hilirisasi yang dijalankan untuk minyak kelapa sawit dan turunannya diproyeksikan dapat menciptakan nilai tambah hingga Rp 90 triliun serta membuka puluhan ribu lapangan kerja baru pada 2025, termasuk melalui perluasan produk seperti biodiesel, Virgin Coconut Oil (VCO), dan bioplastik.
PRO KONTRA: EKSPOR DAN PEMBANGUNAN SDM
Pro:
Para pendukung agenda ekspor menilai bahwa lonjakan kinerja pertanian mencerminkan ketahanan ekonomi yang semakin kuat, sekaligus membuktikan bahwa produk agrikultur Indonesia punya ceruk pasar di luar negeri. Data BPS menunjukkan bahwa komoditas seperti CPO dan turunannya mencatat pertumbuhan signifikan, bahkan di tengah ketidakpastian global.
Kontra:
Namun, kritikus ekonomi menyatakan bahwa jika orientasi ekspor hanya mengandalkan bahan mentah, maka potensi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai global akan lambat. Ketergantungan pada komoditas mentah memosisikan negara sebagai supplier input, bukan sebagai produsen produk bernilai tinggi dan teknologi proses. Hal ini dapat memperlemah posisi tawar dalam negosiasi perdagangan global dan mengurangi dampak manfaat ekspor bagi kesejahteraan petani.
PERAN AGRIBISNIS UMM: MENJEMPUT MASA DEPAN NILAI TAMBAH
Dalam konteks ini, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang melihat tantangan struktural sebagai peluang strategis pendidikan tinggi untuk berkontribusi pada transformasi sektor agribisnis. Ketua Program Studi, Zul Mazwan, menggarisbawahi bahwa kemampuan membaca pasar, inovasi produk, dan strategi hilirisasi harus menjadi kompetensi inti lulusan. “Jika kita hanya mengajarkan agribisnis sebagai produksi, kita ketinggalan. Agribisnis saat ini adalah tentang nilai, informasi pasar, dan kreativitas produk,” ujarnya.
Menurut Zul, pendekatan kurikulum Agribisnis UMM sedang diperluas untuk mencakup analisis pasar global, pengembangan produk bernilai tambah, serta manajemen rantai pasok internasional sebuah respons terhadap tuntutan industri modern. Hal ini tidak hanya relevan bagi lulusan yang ingin berkecimpung dalam ekspor, tetapi juga dalam membangun ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan.
Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P
Editor: Aura Azizah Opal Labibah