MALANG, Permintaan pasar internasional terhadap produk agribisnis yang berkelanjutan, transparan, dan bertanggung jawab semakin meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Konsumen global kini tidak hanya membeli produk berdasarkan harga dan volume, melainkan juga berdasar nilai lingkungan dan sosial di baliknya. Ini menjadikan keberlanjutan bukan sekadar tren, tetapi standar baru dalam persaingan agribisnis global.

Keberlanjutan Sebagai Standar Global

Statistik terbaru menunjukkan bahwa pasar global untuk pertanian berkelanjutan diperkirakan akan tumbuh lebih dari 12 persen per tahun hingga 2030, dengan nilai total mencapai hampir USD 289 miliar. Ini tidak terlepas dari meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk dengan label eco-friendly, serta dorongan investasi yang besar pada teknologi dan praktik agribisnis yang mengurangi dampak lingkungan.

Pandangan sistemik terhadap agribisnis global memperlihatkan bahwa tantangan keberlanjutan mencakup ketidakseimbangan antara kebutuhan produksi pangan dan batasan ekologis. Misalnya, model global menunjukkan bahwa dalam usaha memenuhi permintaan makanan, sering kali terjadi ekspansi lahan yang berpotensi merusak ekosistem hutan dan mengikis keanekaragaman hayati sebuah realitas yang harus dijawab melalui kebijakan integrative.

Realitas Pasar Indonesia: Harapan dan tekanan regulator

Di Indonesia sendiri, sektor agribisnis dan perkebunan nasional secara historis merupakan tulang punggung ekonomi. Sektor ini menyumbang sekitar 41,57 persen dari PDB sektor pertanian pada 2023, dengan nilai ekspor komoditas unggulan seperti sawit, kakao, kopi, dan kelapa mencapai ratusan triliun rupiah. Namun, tekanan terhadap keberlanjutan juga meningkat secara signifikan. Misalnya, implementasi regulasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan peningkatan standar internasional untuk produk yang ramah lingkungan menjadi tantangan sekaligus peluang. Sertifikasi seperti ISPO dipandang penting untuk mempertahankan akses pasar yang sensitif terhadap isu lingkungan, khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika.

Dalam konteks ini, bagi pelaku agribisnis Indonesia, keberlanjutan bukan hanya soal etik produksi, tetapi juga strategi bertahan dalam perdagangan global yang semakin menuntut jejak lingkungan yang bersih dan etika sosial yang kuat.

Pro Kontra dan Dilema Keberlanjutan

Pro: Pendukung agenda keberlanjutan berargumen bahwa perubahan ini justru meningkatkan peluang produk Indonesia di pasar premium. Konsumen global kini lebih menghargai produk dengan jejak lingkungan rendah dan nilai sosial tinggi, sehingga produk lokal bisa meraih ceruk pasar baru dan meningkatkan nilai tambah. Hal ini sesuai dengan strategi diversifikasi produk yang digalakkan pemerintah dalam pengembangan agribisnis modern.

Kontra: Namun, adaptasi terhadap standar keberlanjutan membawa konsekuensi nyata. Bagi petani kecil dan pelaku agribisnis UMKM, biaya adopsi praktik ramah lingkungan dan sertifikasi internasional bisa menjadi beban tambahan, terutama jika dukungan teknologi dan pendanaan belum merata. Beberapa pihak juga menilai bahwa tekanan keberlanjutan global belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi ekonomi negara berkembang, sehingga berpotensi menciptakan ketidakadilan dalam akses pasar.

Tanggapan Akademik: Peran Pendidikan Tinggi

Sekretaris Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Yohana Agustina, menggarisbawahi bahwa perubahan paradigma ini harus dijawab melalui pendidikan yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan sejak awal. “Keberlanjutan bukan sekadar slogan. Mahasiswa harus memahami arsitektur kebijakan global, mekanisme sertifikasi, serta kemampuan analitis untuk membaca dampak sosial dan lingkungan di balik setiap produk,” ujarnya.

Menurut Yohana, kurikulum Agribisnis UMM kini dirancang untuk memadukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pembelajaran termasuk studi kasus global yang relevan dan praktik lapangan bersama pelaku industri. “Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab dalam kacamata global,” katanya.

Strategi Inovasi dan Teknologi sebagai Jalan Tengah

Sebagai respons, banyak pelaku agribisnis lokal yang mulai mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan dampak lingkungan yang positif. Digitalisasi di hulu-hilir, otomatisasi proses, dan penggunaan sistem pemantauan berbasis Internet of Things adalah contoh pendekatan yang kini diuji coba dan diadopsi secara bertahap. Langkah ini tidak hanya mendukung upaya keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam agribisnis berbasis pengetahuan.

Penutup: Menyelaraskan Nilai dan Pasar

Isu keberlanjutan agribisnis sejatinya mencerminkan pergeseran besar dalam cara pasar global memaknai nilai produk. Bagi Indonesia, terutama melalui dukungan kebijakan, inovasi teknologi, dan pendidikan tinggi yang responsif, tantangan ini membuka ruang untuk meningkatkan daya saing sambil memastikan pertanian dan agribisnis tumbuh secara berkelanjutan.

Ke depan, keberlanjutan akan menjadi batu ujian bagi agribisnis Indonesia bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumen global, tetapi juga sebagai modal sosial dan ekonomi untuk menciptakan pertanian yang adil, produktif, serta ramah lingkungan.

 

Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P
Editor: Aura Azizah Opal Labibah