MALANG, Sektor agribisnis Indonesia tengah menghadapi tantangan struktural yang serius: penuaan tenaga kerja dan rendahnya minat generasi muda untuk terlibat sebagai pelaku utama di sektor ini. Data menunjukkan proporsi pekerja muda di pertanian sangat kecil Gen Z (≤ 26 tahun) hanya menyumbang sekitar 2,14 persen dari total petani, sedangkan dominasi masih dipegang oleh Generasi X dan Baby Boomers. Tren ini berimplikasi pada turunnya kapasitas produktivitas dan potensi ancaman terhadap ketahanan pangan jangka menengah.

Fenomena tersebut dikuatkan oleh laporan akademik yang menilai bahwa regenerasi petani di Indonesia tengah mengalami “darurat”. Studi penelitian menunjukkan bahwa anak petani kini cenderung memilih karier di luar sektor pertanian, berkaitan erat dengan persepsi bahwa pekerjaan pertanian kurang menjanjikan secara ekonomi dan kurang cocok dengan aspirasi karier mereka hari ini.

 

Pro Energi dan Potensi Generasi Muda

Meski statistik partisipasi generasi muda relatif rendah, data global memperlihatkan bahwa youth masih menjadi bagian penting dari sistem agrifood, baik sebagai pekerja maupun sebagai agen perubahan dalam rantai nilai pangan. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 44 persen pekerja muda bergantung pada sistem agrifood untuk pekerjaan, jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa pada rentang usia lainnya. Laporan ini juga menggarisbawahi bahwa dengan profesionalisasi dan kesempatan kerja yang layak, keterlibatan generasi muda dapat memberikan nilai tambah ekonomi mencapai triliunan dolar global.

Beberapa perkembangan di wilayah lain menunjukkan peningkatan partisipasi anak muda dalam agribisnis modern, terutama ketika dikaitkan dengan inovasi teknologi dan peluang wirausaha yang lebih jelas. Tren digitalisasi pertanian termasuk penggunaan IoT, big data, dan automasi menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi yang terbiasa dengan teknologi dan informasi.

 

Kontra Persepsi, Hambatan Struktur, dan Risiko Karier

Meski peluang muncul, sejumlah faktor tetap menahan minat generasi muda untuk terjun ke agribisnis. Riset yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa faktor persepsi, rendahnya pendapatan, dan keterbatasan akses teknologi menjadi hambatan utama. Dalam survei lain, generasi muda sering memandang profesi di pertanian sebagai pekerjaan yang “fisik, tradisional, dan kurang prestisius”, sementara peluang karier dan kesejahteraan dirasakan lebih menjanjikan di sektor industri dan jasa.

Faktor lain yang menghambat partisipasi muda adalah keterbatasan akses modal dan jaringan pasar, yang sering kali dirasakan oleh pelaku agribisnis pemula. Tanpa dukungan ekosistem yang kuat seperti pembiayaan inklusif, pelatihan teknologi, serta akses pasar ekspor atau modern retail generasi muda cenderung mencari pekerjaan yang lebih mudah di sektor lain.

 

Peran Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dengan Inovasi dan Kolaborasi

Menanggapi realitas tersebut, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang mengambil pendekatan strategis untuk mengubah narasi keterlibatan generasi muda di agribisnis. Ketua Prodi, Zul Mazwan, menegaskan bahwa tantangan regenerasi bukan hanya soal angka partisipasi, tetapi bagaimana menciptakan ikon relevansi agribisnis bagi Gen Z. “Kita perlu membangun ekosistem pembelajaran yang menggabungkan teknologi, praktik industri, dan keterampilan bisnis modern,” ujarnya.

Menurut Zul, pembelajaran agribisnis yang efektif harus mengintegrasikan studi pasar internasional, digitalisasi produksi, hingga kewirausahaan agritech sehingga lulusan tidak hanya siap bekerja di sektor tradisional, tetapi juga menjadi change agents di era agribisnis modern. Humas Agribisnis UMM, Festy Putri, menambahkan bahwa komunikasi naratif program studi diarahkan untuk mengubah persepsi tradisional. “Kami ingin generasi muda melihat agribisnis sebagai karier yang dinamis, strategis, dan berpotensi memberikan dampak sosial serta ekonomi.” kata Festy.

 

Garis Besar dan Arah Ke Depan

Dalam jangka panjang, regenerasi agribisnis membutuhkan sinergi antara pemerintahan, akademisi, sektor swasta, dan komunitas pemuda itu sendiri. Pendekatan yang responsif terhadap aspirasi generasi muda termasuk pengembangan teknologi pertanian, akses pasar modern, dan sistem pendukung kewirausahaan dapat membuka ruang yang lebih besar bagi Gen Z untuk berkontribusi secara signifikan di sektor ini.

Agribisnis modern kini bukan sekadar pekerjaan produksi, tetapi mencakup teknologi, akses data, pemasaran digital, serta strategi inovasi produk semuanya merupakan domain yang dekat dengan preferensi dan kemampuan generasi muda saat ini.

 

Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P
Editor: Aura Azizah Opal Labibah