Lonjakan permintaan dan faktor pasokan membuat harga cabai kembali menjadi perhatian menjelang Idulfitri

Malang – Dalam lanskap kuliner Indonesia saat ini, sulit rasanya menemukan hidangan tanpa sentuhan pedas. Cabai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya makan masyarakat, mulai dari sambal rumahan hingga menu kuliner kekinian yang identik dengan sensasi pedas. Tidak berlebihan jika muncul ungkapan populer: siapa yang tidak suka cabai di zaman sekarang?

Di balik popularitas tersebut, cabai juga dikenal sebagai salah satu komoditas pangan yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga, terutama menjelang momentum konsumsi besar seperti Ramadan dan Idulfitri. Lonjakan permintaan yang terjadi dalam waktu singkat seringkali memicu kenaikan harga di pasar.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa cabai terutama cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang paling sering memicu kenaikan harga pangan menjelang Lebaran. Komoditas ini bersama telur ayam ras dan daging ayam termasuk penyumbang utama perubahan harga pangan di berbagai daerah.

Memasuki Maret 2026, harga cabai di pasar nasional memang masih berada pada level yang relatif tinggi. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai rawit merah sempat mencapai sekitar Rp85.100 per kilogram, sementara rata-rata nasional berada di kisaran Rp65.000–Rp78.000 per kilogram di tingkat eceran.

Bahkan di beberapa wilayah, harga cabai rawit sempat menyentuh kisaran Rp90.000 per kilogram menjelang Idulfitri akibat meningkatnya permintaan pasar.

Secara ekonomi agribisnis, fenomena kenaikan harga cabai menjelang Lebaran merupakan pola musiman yang cukup konsisten setiap tahun. Permintaan rumah tangga meningkat karena aktivitas memasak selama Ramadan dan tradisi penyajian berbagai hidangan khas Lebaran yang identik dengan bumbu pedas.

Selain faktor permintaan, aspek produksi juga memengaruhi dinamika harga. Curah hujan tinggi dan gangguan panen di beberapa sentra produksi dapat menurunkan pasokan cabai ke pasar, sehingga harga lebih mudah berfluktuasi.

Dalam perspektif akademik, cabai merupakan contoh nyata komoditas hortikultura yang memiliki elastisitas harga tinggi. Perubahan kecil pada sisi produksi atau distribusi dapat memberikan dampak signifikan terhadap harga di tingkat konsumen.

Bagi kalangan akademisi, fenomena ini menjadi bahan kajian penting dalam studi agribisnis, terutama terkait manajemen rantai pasok, stabilitas harga pangan, dan strategi penguatan produksi hortikultura nasional.

Sebagai salah satu program studi yang aktif mengkaji dinamika pasar pangan, Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong analisis ilmiah terhadap berbagai komoditas strategis, termasuk cabai. Pendekatan agribisnis yang komprehensif mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi penguatan sistem pangan nasional.

Di tengah tren kuliner pedas yang semakin digemari masyarakat, cabai tidak sekadar menjadi bumbu dapur. Ia telah menjelma menjadi komoditas strategis yang merefleksikan dinamika ekonomi pangan Indonesia terutama saat momentum besar seperti Lebaran tiba.