INOVASI PETERNAKAN RAMAH DISABILITAS ANTARKAN MAHASISWA AGRIBISNIS UMM RAIH PRESTASI DI KMI EXPO XII

Model bisnis peternakan berkelanjutan karya mahasiswa UMM mendapat apresiasi juri nasional Magelang, 21 November 2025. Inovasi peternakan inklusif karya mahasiswa Agribisnis UMM kembali mengharumkan nama kampus. Lukman Hakim Arifin, di bawah bimbingan Dr. Akhis Soleh Ismail, S.Pt, berhasil meraih Penghargaan Harapan 2 – Tahap Bertumbuh bidang Budidaya dalam kompetisi nasional KMI Expo XII. Karya yang diusung, Embik Eco Green Farm, menghadirkan nilai baru dalam dunia peternakan melalui pendekatan ramah disabilitas, pemanfaatan bahan lokal, dan struktur bisnis terukur. Konsep ini mendapat apresiasi karena menggabungkan inovasi teknologi sederhana dengan dampak sosial yang kuat. Lukman menuturkan bahwa proses persiapan kompetisi menuntut keseriusan, terutama dalam menyelaraskan SOP higienitas produksi dan dokumen legalitas bisnis. Namun pengalaman berinteraksi dengan pelaku usaha muda dari berbagai provinsi menjadi bagian paling berharga. Dosen pembimbing, Dr. Akhis Soleh Ismail, S.Pt, menilai capaian ini sebagai bukti bahwa Agribisnis UMM telah berhasil membangun kurikulum berbasis kompetensi yang relevan terhadap kebutuhan industri. Kompetensi manajemen rantai pasok, branding, serta penyusunan model bisnis terbukti berperan dalam keberhasilan mahasiswa. Lukman berharap keberhasilannya dapat menjadi pemantik semangat mahasiswa lainnya. “Jangan ragu memulai usaha sedini mungkin. Inovasi besar lahir dari keberanian langkah pertama,” tegasnya.

EMPOWERING LOCAL INNOVATION: MAHASISWA AGRIBISNIS UMM RAIH PENGHARGAAN DI KMI EXPO XII 2025

Embik Eco Green Farm buktikan bahwa inovasi berbasis desa mampu bersaing di panggung nasional Magelang menjadi saksi Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Pada KMI Expo XII, yang menghadirkan lebih dari 500 tim mahasiswa inovatif, Lukman Hakim Arifin dari Agribisnis UMM berhasil meraih Harapan 2 yakni Tahap Bertumbuh bidang Budidaya melalui model bisnis Embik Eco Green Farm. Di bawah bimbingan akademik Dr. Akhis Soleh Ismail, S.Pt, Lukman mengembangkan konsep peternakan terpadu ramah disabilitas yang berorientasi pada dampak sosial dan keberlanjutan. Ajang yang diselenggarakan Kemendikbudristek melalui Belmawa ini menjadi ruang kompetitif untuk menguji ketajaman strategi bisnis mahasiswa dari seluruh Indonesia. “Motivasi saya adalah membuktikan bahwa peternakan rakyat dengan inovasi dan keberpihakan sosial dapat menjadi model bisnis masa depan,” ujar Lukman. Ia mengakui bahwa penyempurnaan SOP higienitas dan legalitas usaha merupakan tantangan signifikan selama persiapan lomba. Keterampilan digital marketing, analisis usaha, dan negosiasi mitra yang diperoleh dari bangku kuliah Agribisnis UMM terbukti menjadi fondasi kesuksesan. Tidak heran jika program studi ini semakin dikenal sebagai inkubator agripreneur unggul di tingkat nasional. Lukman menutup dengan pesan inspiratif: “Saya bangga membawa nama Agribisnis UMM, bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai pelaku usaha muda yang percaya bahwa agribisnis adalah masa depan, bukan pelarian.”

AGRIBISNIS UMM CETAK PRESTASI NASIONAL: LUKMAN HAKIM ARIFIN SABET HARAPAN 2 DI KMI EXPO XII

Inovasi peternakan inklusif mahasiswa Agribisnis UMM harumkan nama kampus di ajang wirausaha nasional Malang—Magelang. Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan kapasitasnya dalam mencetak agripreneur muda berdaya saing nasional. Mahasiswa Agribisnis UMM, Lukman Hakim Arifin, sukses meraih Penghargaan Harapan 2 – Tahap Bertumbuh bidang Budidaya pada ajang KMI Expo XII, yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek bersama Direktorat Belmawa dan Universitas Negeri Malang pada 19–21 November 2025 di Universitas Tidar, Magelang. Lukman, dengan bimbingan Dr. Akhis Soleh Ismail, S.Pt, menghadirkan inovasi usaha Embik Eco Green Farm – Integrated, Disability-Friendly Business with Impactful Product Innovation yang bertujuan membuktikan bahwa peternakan rakyat mampu bersaing secara nasional melalui pendekatan inklusif dan berbasis bahan lokal. Menurutnya, tantangan terbesar adalah mencapai standar higienitas produksi tingkat nasional serta menyelaraskan dokumen legalitas bisnis sesuai standar penilaian KMI. “Momen paling berkesan adalah presentasi dan talkshow dengan pelaku usaha muda dari berbagai daerah. Pertukaran gagasan itu sangat memperkaya,” ungkapnya. Keberhasilan ini menegaskan peran Agribisnis UMM sebagai pusat pengembangan inovasi agribisnis modern, dengan kurikulum yang menyokong kemampuan digital marketing, analisis biaya usaha, dan penguatan branding. Lukman berharap semakin banyak mahasiswa UMM berani bergerak. “Jika usaha kecil di desa bisa memberi dampak besar, mengapa harus menunggu menjadi besar dahulu?”