Agribisnis UMM Perkuat Peran Strategis Nasional
Prof. Rahayu Relawati Terlibat dalam Penyusunan Grand Design Apel Batu bersama Dinas Pertanian, BRIN, dan Mitra Lintas Sektor KOTA BATU – Upaya revitalisasi komoditas apel sebagai identitas Kota Batu mendapatkan dorongan besar melalui kolaborasi akademisi, pemerintah daerah, dan lembaga riset nasional. Dalam inisiatif strategis ini, Prof. Rahayu Relawati, salah satu dosen senior dan peneliti unggulan Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), turut dipercaya menjadi bagian penting dalam pengembangan Grand Design Apel Batu. Kolaborasi ini digagas bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, dengan dukungan lembaga riset nasional seperti BRIN, serta sejumlah pemangku kepentingan agribisnis, petani, dan industri pendukung. Kiprah ini menegaskan kembali posisi Agribisnis UMM sebagai pusat keilmuan yang aktif dalam proyek-proyek strategis daerah dan nasional. Mengembalikan Kejayaan Apel Batu Melalui Fondasi Sains dan Agribisnis Modern Kota Batu selama puluhan tahun dikenal sebagai sentra apel terbesar di Indonesia. Namun, geliat industri apel mengalami tantangan serius: alih fungsi lahan, perubahan iklim, regenerasi petani, hingga tekanan pasar dari komoditas hortikultura lain. Melalui Grand Design Apel Batu, seluruh pihak berupaya menyusun arah baru pembangunan apel yang: berbasis data, berkelanjutan, berorientasi pasar, dan diintegrasikan dengan inovasi teknologi serta strategi hilirisasi. Di sinilah peran Prof. Rahayu menjadi sentral. Sebagai akademisi yang memiliki kepakaran dalam rantai nilai agribisnis, pemberdayaan petani, hingga strategi kebijakan pangan, kontribusinya memberi dimensi ilmiah sekaligus praktis dalam merumuskan peta jalan revitalisasi apel di Kota Batu. Kolaborasi Kuat antara Akademisi, Pemerintah, dan Lembaga Riset Pengembangan Grand Design Apel Batu bukanlah proyek teknis biasa; ini adalah model kerja bersama lintas lembaga. Program ini melibatkan: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu – pengarah kebijakan dan fasilitator lapangan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) – penguatan aspek kajian ilmiah dan teknologi Agribisnis UMM – analisis rantai nilai, sosial ekonomi, model bisnis, dan pemberdayaan Pelaku industri dan kelompok tani –implementasi dan validasi lapangan Keterlibatan Agribisnis UMM menjadi bukti bahwa institusi ini dipercaya sebagai mitra pemikir dalam kebijakan pembangunan daerah. Agribisnis UMM: Kampus dengan Jejak Panjang dalam Penguatan Komoditas Lokal Kiprah Prof. Rahayu bukan kali pertama menempatkan Agribisnis UMM dalam forum strategis dan pengambil keputusan. Selama ini, dosen-dosen Agribisnis UMM kerap menjadi mitra pemerintah dalam: penyusunan kebijakan pembangunan pertanian daerah, kajian ketahanan pangan regional, pendampingan petani dan UMKM berbasis agribisnis, hingga pengembangan rantai pasok dan hilirisasi produk. Reputasi tersebut memperkuat citra Agribisnis UMM sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dalam kerja-kerja pembangunan nasional. Menyusun Peta Jalan 10 hingga 20 Tahun Komoditas Apel Batu Grand Design ini mencakup berbagai aspek penting, seperti: analisis rantai nilai apel Batu, strategi regenerasi petani, model bisnis dan hilirisasi produk pangan–minuman, inovasi teknologi budidaya dan pascapanen, pemanfaatan digital farming, hingga pengembangan agro-tourism berbasis apel. Prof. Rahayu menegaskan bahwa grand design ini akan menjadi fondasi jangka panjang untuk memulihkan dan memperkuat komoditas apel Batu agar lebih kompetitif, adaptif, dan relevan dengan tren pasar global. “Identitas Kota Batu tidak boleh hilang. Apel harus kembali menjadi komoditas unggulan, namun tentu dengan pendekatan baru lebih modern, terstruktur, dan berbasis riset,” ungkap Prof. Rahayu dalam salah satu sesi diskusi teknis bersama dinas terkait. UMM sebagai Pusat Intelektual yang Menaungi Solusi Pertanian Daerah Dari sudut pandang lain, keterlibatan Agribisnis UMM menunjukkan bahwa dunia akademik bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang inovasi dan penyelesaian masalah publik. Grand Design Apel Batu menjadi bukti nyata bagaimana universitas berperan aktif sebagai mitra pembangunan daerah. Dengan kontribusi ilmiah dan reputasi panjang di bidang agribisnis, UMM semakin diperhitungkan sebagai institusi pendidikan yang mampu memberi arah pembangunan pertanian Indonesia secara lebih visioner. Menatap Masa Depan Apel Batu dengan Optimisme Melalui kerja kolaboratif ini, Kota Batu memiliki peluang besar untuk menghadirkan ekosistem apel modern yang: berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu menggerakkan ekonomi lokal. Kontribusi Prof. Rahayu Relawati dan Agribisnis UMM di dalamnya mempertegas bahwa UMM tidak hanya menghasilkan lulusan unggul, tetapi juga menjadi penggerak solusi strategis bagi sektor pertanian daerah dan nasional.
Kuat di Akademik, Aktif di Industri
Agribisnis UMM Mantapkan Peran sebagai Penghubung Dunia Kampus dan Korporasi Nasional MALANG – Di tengah tantangan kompleks sektor agribisnis nasional, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan diri sebagai salah satu prodi yang paling progresif dalam membangun hubungan antara dunia akademik dan industri. Melalui kuliah praktisi bersama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Agribisnis UMM memperlihatkan bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat menjadi pusat integrasi pengetahuan dan kebutuhan pasar kerja. Dalam kuliah ini, hadir Jefri Hari Akbar, Head Industrial Relations Corporate Japfa, yang membawakan materi mengenai dinamika ketenagakerjaan, kesiapan kompetensi dan karakter, serta tantangan industri pangan–pakan di Indonesia. Keberadaan Japfa di ruang kelas Agribisnis UMM menjadi simbol bahwa kehadiran prodi tersebut semakin penting bagi industri nasional. Agribisnis UMM: Menghubungkan Dunia Akademik dan Industri Dari sudut pandang lain, kuliah praktisi ini bukan hanya transfer ilmu, tetapi wujud nyata bagaimana Agribisnis UMM menjalankan perannya sebagai jembatan strategis antara kampus dan korporasi. Di tengah ketatnya persaingan SDM agribisnis, kemampuan prodi untuk mengundang pelaku industri besar seperti Japfa memperlihatkan pencapaian penting: institusi dipercaya sebagai penyedia talenta berkualitas, materi kuliah menjadi lebih relevan dengan kebutuhan industri, dan mahasiswa mendapatkan gambaran langsung mengenai profesionalisme kerja. Kegiatan ini sekaligus menjadi indikator bahwa Agribisnis UMM berada di jalur yang tepat: membangun lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga dapat menjadi pemimpin baru di industri pangan dan pertanian. Narasi Baru dalam Pembelajaran Mahasiswa Agribisnis Dalam paparannya, Jefri Hari Akbar menekankan bahwa industri membutuhkan SDM dengan karakter kuat: disiplin, adaptif, bekerja dalam struktur terintegrasi, serta mampu memahami seluruh rantai produksi. Mahasiswa Agribisnis UMM dinilai memiliki modal dasar yang baik untuk memasuki ekosistem tersebut. “Mahasiswa harus mampu melihat gambaran besar industri. Agribisnis bukan sekadar memahami pasar, tetapi juga logistik, manajemen SDM, digitalisasi, dan integrasi sistem. Ini semua penting untuk berkarier di perusahaan besar seperti Japfa,” ujarnya. Sudut pandang ini memperluas horizon pemahaman mahasiswa tentang bagaimana dunia nyata bekerja sesuatu yang tidak bisa diperoleh hanya dari teori. Keunggulan Agribisnis UMM Tidak Sekadar Akademis Agribisnis UMM dalam beberapa tahun terakhir cukup dikenal sebagai prodi yang berprestasi, memiliki jejaring luas, dan aktif bekerja sama dengan berbagai lembaga nasional. Kuliah praktisi ini mempertegas sejumlah keunggulan Agribisnis UMM: Pembelajaran yang dekat dengan industri, Fasilitas laboratorium bisnis yang aplikatif, Karakter mahasiswa yang terbentuk melalui kompetisi nasional, Implementasi EMI sebagai standar global, dan reputasi akademik kuat dengan pengajar berkompeten. Perpaduan faktor-faktor tersebut menjadikan Agribisnis UMM salah satu prodi yang paling menarik bagi industri untuk bersinergi. Sesi Interaktif: Mahasiswa Menunjukkan Kompetensi Berpikir Kritis Di tengah sesi tanya jawab, mahasiswa Agribisnis UMM menunjukkan rasa ingin tahu dan keberanian bertanya mengenai masa depan industri pangan, peluang karier, hingga strategi memenuhi kompetensi dunia usaha. Suasana ini memperlihatkan bahwa mahasiswa Agribisnis telah terbiasa berdiskusi dengan praktisi dan pemimpin industri. Kondisi ini sejalan dengan semangat prodi untuk menghasilkan lulusan berkepribadian kuat, inovatif, dan memiliki daya saing nasional.
Kolaborasi Lintas Ilmu Antar Fakultas, PPK Ormawa Agribisnis UMM Kukuhkan Eksistensi Nasional di Abdidaya 2025
KOTA MALANG – Eksistensi Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menguat di tingkat nasional. Pada ajang Abdidaya Ormawa 2025, kolaborasi strategis mahasiswa Agribisnis bersama mahasiswa Teknik Informatika dan Teknik Elektro berhasil mengantarkan UMM meraih Predikat Terbaik Nasional melalui inovasi “Integrasi Smart Farming 5.0 Berbasis SolarSonic IoT Guard.” Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kualitas inovasi, tetapi juga menegaskan Agribisnis UMM sebagai aktor utama dalam kolaborasi lintas disiplin ilmu yang konkret, berdampak, dan terukur bagi masyarakat. Agribisnis Menjadi Inisiator dan Penggerak Utama PPK Ormawa Program ini digerakkan oleh tim mahasiswa Agribisnis yang menjadi perancang model pemberdayaan, analisis kebutuhan petani, pemetaan masalah hama, serta manajemen program di Desa Ampeldento sebagai lokasi implementasi. Di bawah PPK Ormawa Agribisnis UMM, mahasiswa kemudian menggandeng dua disiplin penting Teknik Informatika dan Teknik Elektro untuk merancang instrumen teknologi yang mampu menjawab kebutuhan petani secara langsung. Sinergi ini menghadirkan integrasi kunci: Agribisnis → analisis usaha tani, sosial-ekonomi petani, pemberdayaan masyarakat, dan kelayakan implementasi teknologi Teknik Informatika → pemrograman, image processing, pengolahan data dan kecerdasan sensor Teknik Elektro → sistem panel surya, rangkaian daya, dan perangkat elektronik pendukung Kolaborasi tersebut menghasilkan inovasi nasional pertama: SolarSonic IoT Guard. Teknologi Smart Farming Pertama di Indonesia Ketua tim, Muhammad Hafizh Abdurrahman, menjelaskan bahwa alat tersebut bekerja dengan menggabungkan: gelombang suara pengusir tikus, mikrofon ultrasonik untuk menghalau burung, sensor termal pendeteksi hama, image processing berbasis Raspberry Pi 5, panel surya dan baterai berkapasitas tinggi, serta sistem Internet of Things (IoT). “Dengan ribuan data citra hama yang dimasukkan, alat ini mampu mengenali tikus dan burung dengan akurasi tinggi, lalu mengusirnya secara otomatis. Alat ini bekerja nonstop karena menggunakan energi matahari,” jelas Abdur. Teknologi ini telah menjadi perhatian nasional karena mengisi kekosongan solusi modern yang selama ini dibutuhkan petani. Eksistensi PPK Ormawa Agribisnis Makin Kokoh di Tingkat Nasional Keberhasilan ini juga menegaskan 3 hal penting tentang eksistensi PPK Ormawa Agribisnis UMM: 1️⃣ Agribisnis sebagai Pusat Integrasi Ilmu PPK Ormawa Agribisnis terbukti menjadi wadah penghubung mahasiswa dari berbagai rumpun ilmu. Prodi Agribisnis memainkan peran sebagai “jembatan strategis” antara kebutuhan petani dan kemampuan teknologi modern. 2️⃣ Pendekatan Multidisiplin yang Sukses Diuji Nasional Keberhasilan di Abdidaya menunjukkan bahwa kolaborasi lintas ilmu bukan sekadar konsep, tetapi mampu menghasilkan solusi praktis yang diapresiasi juri nasional. 3️⃣ Model Pemberdayaan Desa Berbasis Teknologi yang Siap Direplikasi Nasional Inovasi dan pendekatan pendampingan desa yang digunakan tim ini menjadi contoh pemberdayaan modern dan inklusif, relevan dengan kebutuhan era smart agriculture. Kemenangan yang Menegaskan Identitas Agribisnis UMM Kaprodi Agribisnis UMM menyampaikan bahwa kemenangan ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi tentang membangun identitas prodi yang kuat dan relevan di tingkat nasional, terutama dalam: inovasi teknologi agribisnis, kerja sama lintas disiplin, pemberdayaan petani berbasis data, serta kontribusi nyata kepada masyarakat. Harapan untuk Pengembangan Pertanian Indonesia “Fokus kami kini adalah memastikan alat ini benar-benar menjadi solusi yang bisa digunakan petani secara luas,” ujar Abdur. Dengan kemenangan ini, PPK Ormawa Agribisnis UMM tidak hanya mengukuhkan eksistensinya sebagai program pemberdayaan yang berdampak, tetapi juga membuka jalan baru bagi transformasi teknologi pertanian Indonesia.
Dari Kampus ke Kebijakan Publik
Agribisnis UMM Pimpin Arah Baru Grand Design Apel Batu KOTA BATU – Sebuah langkah besar dalam pembangunan agribisnis daerah tengah berlangsung di Kota Batu. Tak hanya dari ruang birokrasi, gagasan strategis itu kini datang dari institusi pendidikan tinggi. Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pusat intelektual yang ikut mengkonstruksi putaran baru kebijakan pertanian lewat keterlibatannya dalam penyusunan Grand Design Apel Batu. Pada proses penyusunan dokumen strategis ini, Prof. Rahayu Relawati, guru besar Agribisnis UMM, berkolaborasi erat dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, ditopang oleh kehadiran BRIN serta berbagai instansi teknis lainnya. Sinergi lintas sektor ini menghadirkan pendekatan ilmiah yang kuat untuk menjawab tantangan keberlanjutan komoditas apel Batu ikon sejarah sekaligus tumpuan ekonomi masyarakat. Sudut Pandang Baru: Akademisi Sebagai “Arsitek Kebijakan” Jika selama ini kebijakan publik banyak ditopang oleh birokrasi dan lembaga riset pemerintah, kehadiran akademisi dari Agribisnis UMM membawa perspektif baru. Prof. Rahayu bukan sekadar peneliti ia menjadi arsitek kebijakan yang menggabungkan: riset pasar, analisis rantai nilai, tren bisnis hortikultura global, perubahan iklim dan alih fungsi lahan, serta strategi regenerasi petani muda. Pendekatan akademik inilah yang memberi kedalaman pada grand design, menjadikannya lebih dari sekadar dokumen teknis melainkan peta jalan masa depan. Komoditas Apel Batu: Dari Krisis Menuju Kebangkitan Kota Batu pernah menjadi pusat kejayaan apel Indonesia. Namun dalam dua dekade terakhir, berbagai persoalan muncul: alih fungsi lahan, tingginya biaya produksi, penyakit tanaman, minimnya regenerasi petani, hingga rendahnya produktivitas dibanding komoditas alternatif. Inilah konteks penting mengapa Grand Design Apel Batu diperlukan. Peran Agribisnis UMM bukan hanya meneliti masalah, tetapi menjahit berbagai potensi yang masih tersisa mulai dari inovasi pasar, diversifikasi produk turunan, hingga konsep agro-tourism berbasis komoditas lokal. UMM Hadir sebagai Pusat Pengembangan Pengetahuan Daerah Dengan rekam jejak panjang dalam penelitian agribisnis, UMM menjadi salah satu kampus yang dipandang memiliki kapasitas mumpuni untuk menerjemahkan tantangan di lapangan menjadi gagasan penguatan kebijakan. Kontribusi Agribisnis UMM meliputi: pemodelan rantai nilai apel Batu, desain keberlanjutan komoditas berbasis ekologi dan ekonomi, rekomendasi intervensi kebijakan jangka pendek–menengah–panjang, serta integrasi inovasi digital dalam budidaya dan pemasaran. Kolaborasi Lintas Sektor: Pilar Kekuatan Grand Design Inovasi kebijakan tidak mungkin lahir dari satu institusi. Kolaborasi ini menyatukan tiga kekuatan: Pemerintah Daerah – pemilik kewenangan dan sumber daya lapangan BRIN – pusat riset nasional berkemampuan teknologi tinggi Agribisnis UMM – produsen gagasan, analisis akademik, dan model bisnis Pelaku industri & petani – pusat implementasi dan validasi lapangan Dengan sinergi seperti ini, Kota Batu memiliki potensi besar untuk membangun model revitalisasi hortikultura yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia. Agribisnis UMM: Dari Laboratorium Pengetahuan ke Dampak Nyata Keterlibatan dalam Grand Design Apel Batu mempertegas satu hal: Agribisnis UMM bukan hanya tempat belajar, tetapi juga aktor perubahan bagi daerah dan bangsa. Dengan reputasi riset yang kuat, jejaring nasional, dan pengalaman terlibat dalam berbagai proyek strategis, UMM kini menjelma menjadi pusat pemikiran agribisnis yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Agribisnis UMM Torehkan Standar Baru Pendidikan Agribisnis Indonesia
EMI (English as a Medium Instruction) Berjalan Konsisten, Langkah Progresif Menuju Kelas Internasional KOTA MALANG – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengambil langkah besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui penerapan EMI (English as a Medium of Instruction) pada beberapa kelas inti pembelajaran. Langkah ini menandai komitmen kuat Agribisnis UMM untuk menghadirkan suasana belajar berstandar internasional dan mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia agribisnis global yang semakin kompetitif. Implementasi EMI di Agribisnis UMM menjadi salah satu wujud keseriusan fakultas dalam menyelaraskan pendidikan dengan tuntutan era internasionalisasi, sekaligus menjawab kebutuhan mahasiswa yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris akademik untuk studi lanjut, kompetisi global, dan peluang karier di industri internasional. Langkah Strategis Menuju Kelas Agribisnis Berstandar Global Penerapan EMI ini bukan sekadar mengganti bahasa pengantar. Agribisnis UMM membangun pendekatan pembelajaran komprehensif yang menggabungkan: penguasaan konten perkuliahan dalam bahasa Inggris, pembiasaan terminologi agribisnis internasional, kemampuan komunikasi akademik, peningkatan critical thinking, serta penyelarasan metode belajar dengan standar global berbasis learner-centered pedagogy. Kegiatan ini diperkaya dengan materi pelatihan dan filosofi EMI dari Macquarie University EMI Centre, yang menekankan tantangan, asumsi, serta realitas pelaksanaan EMI dalam konteks Asia. Didukung Dosen Terlatih dan Fasilitas Pembelajaran Memadai Dosen Agribisnis UMM telah mengikuti pelatihan intensif terkait metode EMI, termasuk: Effective questioning, Pronunciation and clarity, Translanguaging strategies, Group-based learning in EMI, serta metode scaffolding untuk mendukung mahasiswa di fase adaptasi. Pelatihan tersebut mempersiapkan dosen untuk tidak hanya mengajar dalam bahasa Inggris, tetapi juga menciptakan suasana kelas yang tetap inklusif dan mendorong mahasiswa berani berkomunikasi tanpa rasa takut. Mahasiswa Agribisnis Sambut Positif EMI Mahasiswa Agribisnis UMM menunjukkan antusiasme tinggi terhadap implementasi EMI. Bagi mereka, EMI bukan hanya kesempatan belajar dengan perspektif global, tetapi juga modal besar untuk: mengikuti kompetisi internasional, menembus beasiswa luar negeri, memperkuat kemampuan presentasi profesional, hingga mengekspansi peluang bisnis agribisnis lintas negara. Sebagian besar mahasiswa merasa EMI membantu mereka lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris dalam konteks akademik dan profesional. Agribisnis UMM Jadi Pelopor EMI di Bidang Agribisnis Dengan pelaksanaan EMI, Agribisnis UMM menjadi salah satu program studi Agribisnis di Indonesia yang paling progresif dalam: mengintegrasikan internasionalisasi dalam kurikulum, menciptakan kelas bilingual internasional, memadukan konten agribisnis dengan kemampuan global literacy, dan menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di ASEAN dan pasar internasional. Langkah ini sejalan dengan visi UMM untuk menjadi kampus kelas dunia dan prodi yang adaptif terhadap dinamika globalisasi. Membangun Budaya Akademik yang Lebih Terbuka dan Multilingual Penerapan EMI mendorong mahasiswa untuk berinteraksi dalam lingkungan kelas yang lebih dinamis. Praktik translanguaging—penggunaan terarah bahasa Indonesia dan Inggris—tetap digunakan secara strategis agar pemahaman konsep tidak terganggu. Pendekatan ini sesuai filosofi EMI yang menekankan bahwa pemahaman konten tetap menjadi prioritas, sementara bahasa Inggris menjadi medium pendukung yang dikembangkan secara bertahap. Menuju Generasi Agribisnis yang Global-Minded Kaprodi dan jajaran pimpinan Agribisnis UMM menyampaikan bahwa EMI adalah investasi jangka panjang untuk membentuk lulusan yang: adaptif, multilingual, kompeten secara global, dan siap mengembangkan sektor agribisnis Indonesia di level internasional. Ke depan, program ini akan diperluas ke lebih banyak kelas dan diperkaya dengan aktivitas kolaborasi internasional, guest lecture, dan joint class dengan universitas mitra luar negeri. Agribisnis UMM Semakin Mantap di Jalur Internasionalisasi Penerapan EMI menjadi penanda bahwa Agribisnis UMM terus bergerak maju dan responsif terhadap perubahan global. Dengan dukungan dosen yang kompeten serta mahasiswa yang siap beradaptasi, prodi ini semakin percaya diri menjadi salah satu pusat pengembangan agribisnis berbasis internasional di Indonesia.
Agribisnis UMM Perkuat Jejaring Nasional
Kolaborasi Strategis dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Hadirkan Perspektif Industri untuk Mahasiswa KOTA MALANG – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai prodi yang adaptif, unggul, dan memiliki jejaring industri kuat di tingkat nasional. Dalam rangka memperluas wawasan mahasiswa serta memperkaya pembelajaran berbasis industri (industry-linked learning), Agribisnis UMM menghadirkan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, salah satu perusahaan agribisnis terbesar di Indonesia. Pada kegiatan kuliah tamu yang digelar di kampus putih UMM, hadir sebagai pemateri Jefri Hari Akbar, Head Industrial Relations Corporate PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Kehadiran tokoh industri nasional dalam ruang akademik ini menjadi bukti nyata bahwa Agribisnis UMM terus memperkuat jejaring eksternal demi meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan. Kemitraan Strategis Perguruan Tinggi dan Industri Nasional Dalam sesi paparan, Jefri Hari Akbar menyampaikan gambaran komprehensif mengenai dinamika dunia kerja sektor agribisnis, tantangan kompetensi SDM agribisnis Indonesia, serta strategi pengembangan talenta yang selama ini dilakukan JAPFA. “Industri membutuhkan SDM yang siap adaptif, mampu berpikir global, dan memahami integrasi antara produksi, teknologi, dan jejaring komersial. Mahasiswa Agribisnis UMM memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam industri ini,” ujarnya. Kolaborasi ini diharapkan menjadi jembatan penting antara ruang kuliah dan kebutuhan nyata dunia industri, sehingga mahasiswa dapat memperoleh perspektif yang relevan untuk menghadapi persaingan profesional di masa depan. Agribisnis UMM: Prodi dengan Reputasi Nasional dan Orientasi Global Kehadiran PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mempertegas reputasi Agribisnis UMM sebagai salah satu prodi yang aktif membangun hubungan strategis dengan pelaku industri nasional. Sebelumnya, Agribisnis UMM juga telah membangun kemitraan dengan berbagai perusahaan, eksportir, lembaga pemerintah, serta komunitas petani dan UMKM. Beberapa keunggulan Agribisnis UMM yang dipertegas melalui kegiatan ini antara lain: kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan industri, pembelajaran berbasis praktik dan riset, jejaring nasional yang terus berkembang, fasilitas laboratorium bisnis yang aplikatif, Dengan mengundang pemateri langsung dari industri terkemuka, Agribisnis UMM semakin memastikan bahwa mahasiswanya tidak hanya siap secara teori, tetapi juga matang secara profesional. Kelas yang Interaktif, Inspiratif, dan Berorientasi Masa Depan Sesi kuliah berlangsung dinamis dengan dialog intensif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam bertanya seputar: peluang karier di industri pangan dan pakan, sistem rekrutmen industri besar, tantangan transformasi digital di sektor agribisnis, hingga strategi manajemen rantai pasok terpadu. Atmosfer pembelajaran yang interaktif ini menjadi ciri khas Agribisnis UMM menghubungkan teori akademik dengan wawasan praktis langsung dari pusat industri nasional. Kaprodi Agribisnis: “Ini Bagian dari Komitmen Kami untuk Membangun SDM Berkelas Nasional” Kaprodi Agribisnis UMM, M. Zul Mawan, menegaskan bahwa kegiatan seperti ini adalah wujud nyata usaha prodi dalam mempersiapkan lulusan yang mampu bersaing di dunia nyata. “Kehadiran industri di ruang kelas adalah hal penting. Kami ingin mahasiswa mampu melihat arah perkembangan sektor agribisnis, memahami tantangannya, dan mempersiapkan diri menjadi SDM unggul sesuai kebutuhan industri nasional,” ujarnya. Melalui jejaring yang semakin luas, Agribisnis UMM tidak hanya menguatkan posisi di tingkat nasional, tetapi juga membangun sistem pembelajaran yang makin terarah, praktis, dan bermanfaat untuk mahasiswa. Agribisnis UMM Siap Lahirkan Lulusan yang Kompetitif di Industri Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Agribisnis UMM terus meningkatkan kualitas proses belajar dengan menghadirkan perspektif industri dan membuka pintu kolaborasi yang lebih luas dengan perusahaan besar. Ke depan, kerja sama dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk akan dikembangkan dalam bentuk: magang bersertifikat, penelitian bersama, pengembangan kuliah industri reguler, dan peluang rekrutmen lulusan Agribisnis UMM. Langkah ini menegaskan bahwa Agribisnis UMM bukan hanya prodi akademik, tetapi juga prodi yang menyiapkan mahasiswa untuk menjadi pelaku industri agribisnis nasional yang tangguh dan berdaya saing tinggi.
Agribisnis UMM Ukir Sejarah di Abdidaya Ormawa 2025
Inovasi SolarSonic IoT Guard Sabet Predikat Terbaik Nasional KOTA MALANG – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), khususnya melalui kiprah Program Studi Agribisnis. Dalam ajang Abdidaya Ormawa 2025, salah satu kompetisi pengabdian mahasiswa paling prestisius di Indonesia, tim PPK Ormawa UMM berhasil meraih Predikat Terbaik Unggulan Nasional melalui inovasi “Integrasi Smart Farming 5.0 Berbasis SolarSonic IoT Guard untuk Efisiensi Pengendalian Hama Tikus dan Burung pada Padi di Desa Ampeldento.” Kemenangan ini bukan hanya menjadi capaian mahasiswa, tetapi juga menjadi bukti penguatan kapasitas akademik Prodi Agribisnis UMM dalam menghadirkan inovasi yang relevan, aplikatif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Teknologi Pertanian Modern Pertama di Indonesia Inovasi SolarSonic IoT Guard digagas oleh mahasiswa lintas prodi Agribisnis, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika. Ketua tim, Muhammad Hafizh Abdurrahman, menjelaskan bahwa teknologi tersebut menggabungkan gelombang suara pengusir hama, sensor termal, image processing berbasis Raspberry Pi 5, panel surya, dan sistem IoT. “Alat ini mampu bekerja 24 jam nonstop menggunakan energi surya. Frekuensinya mengganggu pendengaran tikus dan burung sehingga mereka menjauh. Dengan puluhan ribu dataset citra, sensor mampu mengenali hama dengan akurat. Ini pertama kali ada di Indonesia,” jelasnya. Peran Strategis Mahasiswa Agribisnis Mahasiswa Agribisnis memegang peran vital dalam keberhasilan proyek ini, termasuk: analisis usaha tani dan dampak ekonomi desa, pemetaan kebutuhan petani, strategi adopsi teknologi oleh masyarakat, penguatan bisnis desa dan keberlanjutan program, serta manajemen program PPK Ormawa secara keseluruhan. Pendekatan komprehensif ini menjadi salah satu faktor penentu kemenangan UMM dalam proses penilaian Abdidaya. Dibimbing oleh Dosen Agribisnis UMM yang Berpengalaman Kemenangan tim ini juga tidak lepas dari peran pembimbing lapangan, Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P., dosen muda Agribisnis UMM yang dalam tiga tahun terakhir secara konsisten membimbing tim PPK Ormawa hingga selalu lolos pendanaan nasional. Menariknya, meskipun dua tahun sebelumnya tim yang dibimbingnya sudah menembus pendanaan PPK Ormawa, baru pada tahun ketiga inilah tim bimbingannya berhasil melangkah hingga tahap tertinggi: Abdidaya Nasional, bahkan langsung meraih predikat terbaik. Pencapaian ini menjadi tonggak penting baik bagi prodi maupun bagi pendamping, karena menunjukkan konsistensi, kualitas pendampingan, dan kekuatan pembinaan mahasiswa di Agribisnis UMM. Booth Kreatif, SDGs, dan Apresiasi Juri Dalam penilaian Abdidaya, tim UMM juga menampilkan miniatur alat, booth kreatif, hingga permainan edukatif bagi audiens. Yang menarik, mayoritas dekorasi menggunakan bahan bekas, menunjukkan komitmen tim terhadap prinsip keberlanjutan dan SDGs. Pendekatan kreatif ini diapresiasi juri sebagai bentuk inovasi yang tidak hanya teknis, tetapi juga ramah lingkungan. Agribisnis UMM Makin Menguat di Kancah Nasional Prestasi ini semakin memperteguh posisi Agribisnis UMM sebagai prodi yang aktif dalam: riset dan pengembangan teknologi pertanian, pemberdayaan masyarakat berbasis data, integrasi smart farming dan agritech, serta prestasi ormawa di tingkat nasional. Kaprodi Agribisnis dan pimpinan FPP UMM menyampaikan rasa bangga atas kerja keras mahasiswa dan dosen pembimbing yang telah membawa nama UMM bersinar di tingkat nasional. Harapan untuk Pertanian Indonesia Abdur menutup dengan harapan besar bahwa alat ini dapat benar-benar membantu petani menghadapi hama yang selama ini menjadi momok utama pertanian padi. “Fokus kami saat ini adalah pengoptimalan alat agar bisa membantu petani secara menyeluruh meningkatkan produktivitas,” ujarnya. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas ilmu dan pendampingan berkualitas di Agribisnis UMM mampu menghasilkan inovasi yang tak hanya memenangkan kompetisi, tetapi juga berpotensi mengubah wajah pertanian Indonesia.
Riset Agribisnis UMM Tawarkan Arah Baru Perikanan Berkelanjutan Jawa Timur
Pendekatan Agribisnis UMM Menghubungkan Keilmuan, Pasar, dan Kesejahteraan Nelayan Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kapasitas akademiknya melalui riset strategis tentang keberlanjutan perikanan tangkap di Jawa Timur. Penelitian ini menghadirkan pendekatan agribisnis yang komprehensif dengan menempatkan kesejahteraan nelayan sebagai elemen utama dalam upaya menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Riset ini digagas oleh tim dosen Agribisnis UMM, yakni Dr. Ir. Anas Tain, M.M., Wahid M. Shodiq, S.P., M.P., dan M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc. Dengan pendekatan berbasis data lapangan, penelitian ini mengkaji praktik penggunaan alat tangkap, tingkat kesadaran ekologis, serta faktor sosial ekonomi yang memengaruhi keberlanjutan usaha perikanan di wilayah pesisir Jawa Timur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesadaran nelayan terhadap dampak aktivitas penangkapan terhadap ekosistem laut tergolong tinggi, termasuk dukungan terhadap penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dan penegakan sanksi terhadap praktik ilegal. Namun demikian, keterbatasan akses pasar dan lemahnya posisi tawar nelayan masih menjadi tantangan struktural yang berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan. Ketua peneliti, Dr. Ir. Anas Tain, M.M., menjelaskan bahwa pendekatan keberlanjutan dalam sektor perikanan harus dibangun secara menyeluruh dan tidak parsial. “Keberlanjutan perikanan tidak bisa hanya dilihat dari aspek ekologis. Jika kesejahteraan nelayan tidak diperkuat melalui akses pasar, kelembagaan, dan dukungan ekonomi, maka praktik ramah lingkungan akan sulit bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya. Lebih lanjut, Dr. Anas menegaskan bahwa pendekatan agribisnis menjadi kunci dalam menjembatani kepentingan lingkungan dan ekonomi nelayan. Menurutnya, pengelolaan perikanan yang berkelanjutan membutuhkan integrasi antara praktik produksi, sistem pemasaran, serta kebijakan yang berpihak pada nelayan skala kecil. Melalui riset ini, Agribisnis UMM tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan rujukan kebijakan yang aplikatif dan relevan. Penelitian ini menegaskan posisi Agribisnis UMM sebagai pusat kajian yang mampu menawarkan solusi berbasis riset untuk pembangunan perikanan berkelanjutan di Indonesia.
Agribisnis UMM Dorong Keberlanjutan Perikanan Tangkap Jawa Timur Berbasis Kesejahteraan Nelayan
Riset Agribisnis UMM Menawarkan Model Integratif antara Praktik Ramah Lingkungan dan Peningkatan Kesejahteraan Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya dalam pengembangan ilmu terapan melalui penelitian mengenai keberlanjutan sumber daya perikanan tangkap di Jawa Timur. Penelitian ini menyoroti keterkaitan antara praktik alat tangkap, kesadaran ekologis, dan kesejahteraan nelayan sebagai fondasi penting pembangunan pesisir yang berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan oleh tim dosen Agribisnis UMM yang terdiri dari Dr. Ir. Anas Tain, M.M., Wahid M. Shodiq, S.P., M.P., dan M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc. Kajian dilakukan di sejumlah wilayah pesisir Jawa Timur dengan melibatkan ratusan nelayan sebagai responden, guna memperoleh gambaran empiris mengenai praktik penangkapan ikan, kondisi sosial ekonomi, serta tingkat kesadaran lingkungan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas nelayan masih menggunakan alat tangkap tradisional yang relatif ramah lingkungan, sementara penggunaan alat tangkap destruktif berada pada proporsi yang lebih kecil. Temuan ini menunjukkan adanya modal ekologis dan sosial yang kuat untuk mendorong pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan berbasis masyarakat. Dari sisi kesejahteraan, penelitian ini mengungkap bahwa tingkat kesejahteraan nelayan masih berada pada kategori rentan. Faktor sosial ekonomi dan pola pemasaran terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan nelayan, mengindikasikan bahwa persoalan perikanan tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur ekonomi dan akses pasar. Melalui riset ini, Agribisnis UMM mendorong lahirnya pendekatan kebijakan yang mengintegrasikan konservasi sumber daya perikanan dengan pemberdayaan ekonomi nelayan. Penelitian ini menjadi kontribusi akademik Agribisnis UMM dalam membangun model pembangunan perikanan tangkap yang berkelanjutan dan berkeadilan.