MENDESAIN MASA DEPAN PERTANIAN SEJAK BANGKU SMK

Strategi Agribisnis UMM Bangun Awareness Pendidikan Tinggi Berbasis Inovasi Edufair di SMK Negeri 1 Bangil bukan sekadar agenda promosi kampus. Bagi Agribisnis UMM, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pendidikan tinggi yang berbasis inovasi dan kewirausahaan. Di tengah tantangan regenerasi petani dan transformasi sektor pangan, Agribisnis UMM hadir menawarkan pendekatan integratif menggabungkan manajemen agribisnis, teknologi produksi, pemasaran digital, hingga pengembangan startup agroindustri. Dalam pemaparannya, tim menjelaskan bahwa agribisnis bukan lagi identik dengan aktivitas konvensional di lahan, melainkan sektor strategis yang mencakup rantai nilai hulu-hilir. Lulusan diproyeksikan menjadi agripreneur, analis pasar komoditas, konsultan bisnis pertanian, hingga pengelola industri pangan. Melalui pendekatan komunikatif dan berbasis data, Edufair ini membuka cakrawala siswa SMK untuk melihat pertanian sebagai sektor masa depan yang menjanjikan. Agribisnis UMM kembali menunjukkan peran akademiknya dalam menyiapkan SDM unggul yang adaptif dan berdaya saing.

AGRIBISNIS UMM HADIRKAN EDUFAIR INSPIRATIF DI SMK NEGERI 1 BANGIL

Kenalkan Peluang Karier Agribisnis Modern kepada Generasi Vokasi Komitmen memperluas akses informasi pendidikan tinggi kembali ditegaskan oleh Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang melalui kegiatan Edufair di SMK Negeri 1 Bangil. Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis antara dunia pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi berbasis agribisnis modern. Dalam kegiatan tersebut, tim Agribisnis UMM memperkenalkan transformasi sektor pertanian yang kini bergerak menuju digitalisasi, hilirisasi produk, hingga kewirausahaan berbasis inovasi. Siswa tidak hanya dikenalkan pada perkuliahan, tetapi juga pada prospek karier agribisnis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar global. Antusiasme siswa terlihat dari interaksi aktif selama sesi pemaparan dan konsultasi studi. Berbagai pertanyaan seputar peluang beasiswa, program kewirausahaan mahasiswa, hingga prospek kerja lulusan menjadi bukti meningkatnya minat generasi muda terhadap sektor agribisnis. Melalui Edufair ini, Agribisnis UMM menegaskan positioning-nya sebagai program studi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri dan dinamika ekonomi nasional.

MODEL PEMBERDAYAAN BERBASIS KOMUNIKASI BISNIS: INOVASI AGRIBISNIS UMM UNTUK DESA SEMI-PERKOTAAN

Integrasi Produksi, Manajemen Digital, dan Storytelling Produk Dorong Daya Saing Lokal Dalam perspektif agribisnis modern, nilai tambah tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan mengomunikasikan nilai tersebut kepada pasar. Tantangan inilah yang diidentifikasi tim pengabdian Agribisnis UMM di Desa Jetis Mulyoagung. Analisis rantai usaha menunjukkan berbagai kelemahan: peralatan produksi konvensional, standar mutu belum terdokumentasi, distribusi terbatas, serta manajemen usaha belum bankable. Tanpa intervensi strategis, usaha mikro sulit berkembang secara akseleratif. Melalui lima tahapan pelaksanaan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan keberlanjutan Agribisnis UMM merancang transformasi yang sistematis. Workshop produksi dipadukan dengan pelatihan komunikasi bisnis, manajemen digital, hingga praktik pembuatan konten menggunakan aplikasi sederhana. Hasilnya, peserta tidak hanya memahami konsep value creation, tetapi juga mampu mempraktikkan customer language dan product storytelling secara mandiri.  Program ini menciptakan dampak jangka panjang: peningkatan rasa percaya diri, keberanian berinovasi, serta terbentuknya komunitas bisnis yang solid. Lebih dari itu, model ini memiliki skalabilitas tinggi untuk direplikasi pada wilayah lain dengan karakteristik serupa. Sebagai program studi yang unggul dalam pengembangan agribisnis berbasis inovasi, Agribisnis UMM kembali menegaskan perannya sebagai katalis transformasi ekonomi desa menghubungkan ilmu, teknologi, dan masyarakat dalam satu ekosistem kewirausahaan yang progresif dan berdaya saing.

DARI USAHA INDIVIDUAL KE KOMUNITAS BISNIS INOVATIF

Strategi Agribisnis UMM Ciptakan Ekosistem Kewirausahaan Berkelanjutan Selama ini, pelaku usaha di Desa Jetis Mulyoagung bergerak secara individual. Produk dihasilkan, dijual secara offline, tanpa standar mutu terdokumentasi dan tanpa branding yang kuat. Akibatnya, daya saing rendah dan kapasitas penyerapan pasar terbatas.Melalui program Next-Gen Entrepreneurs, Agribisnis UMM menghadirkan intervensi berbasis ekosistem. Tidak hanya meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga membangun jejaring usaha yang terorganisir. Target program ini jelas: minimal 25 jenis usaha tergabung dalam komunitas bisnis inovatif, memiliki pencatatan usaha sederhana berbasis digital, serta mampu memanfaatkan platform media sosial sebagai saluran distribusi dan komunikasi.Pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan. Teknologi yang diterapkan disesuaikan dengan ritme sosial masyarakat. Platform seperti Instagram dan TikTok dimanfaatkan sebagai kanal promosi, sementara sistem WhatsApp digunakan sebagai ruang pendampingan berkelanjutan. Sebanyak 85 persen peserta mengalami perubahan persepsi media sosial tidak lagi dipandang sebagai hiburan semata, tetapi sebagai instrumen produktif. Langkah ini menegaskan keunggulan Agribisnis UMM dalam mengembangkan model pemberdayaan yang adaptif dan kontekstual. Keilmuan agribisnis tidak berhenti pada teori rantai nilai, tetapi diterjemahkan menjadi praktik pembangunan ekonomi lokal yang terukur dan berkelanjutan.

AGRIBISNIS UMM BANGUN NEXT-GEN ENTREPRENEURS DI DESA JETIS MULYOAGUNG

Transformasi Literasi Digital dan Komunikasi Bisnis untuk Perluasan Pasar UMKM Desa Desa Jetis Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, menyimpan potensi ekonomi yang besar. Berada di ketinggian 600 mdpl dengan suhu rata-rata 20°C, desa semi-perkotaan ini memiliki kombinasi ideal antara produktivitas pertanian dan geliat usaha mikro kreatif. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi daya saing pasar.Keterbatasan literasi digital, lemahnya komunikasi bisnis, serta belum terbentuknya jejaring usaha menjadi hambatan utama ekspansi produk lokal. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan program Next-Gen Desa Jetis Mulyoagung Entrepreneurs. Program ini dirancang sebagai model transformasi kewirausahaan berbasis penguatan skill, strategi komunikasi, dan pembangunan komunitas bisnis inovatif. Ketua tim Festy Putri R., S.P., M.P bersama Wahid Muhammad Shodiq, S.P., M.P serta mahasiswa pendamping menghadirkan pendekatan terintegrasi: pelatihan produksi, manajemen usaha digital, hingga pemasaran berbasis media sosial. Hasil sementara menunjukkan capaian signifikan. Sebanyak 70 persen tahapan program telah terlaksana dengan peningkatan literasi pemasaran, perubahan persepsi terhadap media sosial sebagai alat kerja, serta lahirnya keterampilan praktis seperti product storytelling dan produksi konten digital. Bagi Agribisnis UMM, program ini bukan sekadar pengabdian, melainkan implementasi nyata pendekatan agribisnis modern mengintegrasikan hulu hingga hilir, produksi hingga komunikasi nilai produk. Model ini berpotensi direplikasi sebagai prototipe pengembangan kewirausahaan desa berbasis teknologi adaptif.

DARI PANEN KE NILAI TAMBAH: MODEL PENGABDIAN AGRIBISNIS UMM UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN

Teknologi Tepat Guna Berbasis Kearifan Lokal Jadi Solusi Ekonomi Petani Tembakau Produktivitas pertanian tanpa penguatan pascapanen berisiko menciptakan paradoks kesejahteraan. Fenomena inilah yang terjadi di Desa Kedungsumber, Bojonegoro sentra tembakau dengan produksi tinggi namun pendapatan stagnan. Mayoritas petani masih menjual tembakau dalam kondisi basah. Akibatnya, nilai ekonomi yang diterima jauh di bawah potensi riil komoditas tersebut. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya kesejahteraan petani yang terancam, tetapi juga keberlanjutan regenerasi pertanian. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian blockgrant dari Agribisnis UMM hadir membawa model intervensi berbasis teknologi tepat guna dan kearifan lokal. Edukasi yang dilaksanakan pada 16 Februari 2026 menitikberatkan pada teknik pengeringan dan perajangan tembakau sebagai strategi peningkatan nilai tambah. Secara akademik, intervensi ini merefleksikan pendekatan agribisnis terpadu mengintegrasikan aspek produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan demikian, petani tidak lagi terjebak dalam rantai distribusi yang timpang. Desa Kedungsumber yang berada di wilayah selatan Bojonegoro dengan keterbatasan akses teknologi menjadi laboratorium sosial bagi implementasi keilmuan Agribisnis UMM. Di sinilah ilmu tidak berhenti sebagai teori, tetapi menjelma solusi konkret. Langkah kecil dari desa ini menjadi representasi komitmen Agribisnis UMM dalam membangun pertanian berbasis nilai tambah dan keberlanjutan. Sebab kesejahteraan petani tidak semata ditentukan oleh luas lahan, melainkan oleh kecerdasan dalam mengelola hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

PEREMPUAN DESA JADI MOTOR NILAI TAMBAH TEMBAKAU

Strategi Inklusif Agribisnis UMM Perkuat Ekonomi Keluarga Petani Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan tim pengabdian Agribisnis UMM di Desa Kedungsumber menghadirkan strategi berbeda. Fokus utama kegiatan justru diberikan kepada ibu-ibu petani sebagai aktor kunci dalam pengelolaan hasil panen. Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam struktur sosial ekonomi pedesaan, perempuan memiliki peran signifikan dalam pengelolaan rumah tangga sekaligus aktivitas produktif pascapanen. Dengan bekal pemahaman pengeringan dan perajangan tembakau, keluarga petani berpeluang meningkatkan posisi tawar di pasar. Ketergantungan pada tengkulak selama ini terjadi karena tembakau basah harus segera dijual sebelum rusak. Minimnya akses teknologi pascapanen membuat petani tidak memiliki ruang negosiasi harga. Melalui program bertajuk “Pemberdayaan Petani Tembakau melalui Optimalisasi Teknologi Tepat Guna Berbasis Kearifan Lokal,” tim yang diketuai Wahid Muhammad Shodiq membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya hilirisasi sederhana namun bernilai ekonomi tinggi. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung dinamis. Salah satu peserta, Asik, mengaku baru pertama kali mendapatkan edukasi terstruktur mengenai peningkatan nilai jual tembakau. Bagi Agribisnis UMM, kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi tridharma perguruan tinggi. Pendekatan berbasis riset dan pemberdayaan inklusif menjadi karakter khas yang membedakan kontribusi akademik UMM di tengah dinamika sektor pertanian nasional.

AGRIBISNIS UMM DORONG HILIRISASI TEMBAKAU DESA KEDUNGSUMBER

Transformasi Pascapanen Jadi Strategi Putus Rantai Ketergantungan Tengkulak Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, selama ini dikenal sebagai salah satu sentra tembakau produktif di wilayah selatan. Namun produktivitas tinggi belum berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Panen melimpah masih dibayangi harga jual rendah akibat praktik penjualan tembakau basah tanpa proses pengolahan. Melihat kesenjangan nilai ekonomi tersebut, tim pengabdian skema blockgrant dari Program Studi Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir membawa pendekatan hilirisasi berbasis teknologi tepat guna dan kearifan lokal. Ketua tim, Wahid Muhammad Shodiq bersama Festy Putri Ramadhani dan Nur Izzatul Maulidah, menegaskan bahwa akar persoalan bukan pada teknik budidaya, melainkan pada lemahnya manajemen pascapanen.Harga tembakau basah yang hanya berkisar Rp500–2.000 per kilogram kontras dengan nilai tembakau rajangan kering yang dapat mencapai Rp32.000–36.000 per kilogram. Selisih ini menunjukkan adanya potensi nilai tambah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui kegiatan edukasi yang dilaksanakan Senin (16/2/2026), tim Agribisnis UMM menanamkan paradigma baru: petani tidak hanya sebagai produsen bahan mentah, melainkan sebagai pelaku agribisnis yang mampu mengendalikan rantai nilai. Pendekatan akademik yang aplikatif menjadi kekuatan utama kegiatan ini. Tidak sekadar transfer teknologi, tetapi juga penguatan kapasitas ekonomi rumah tangga petani. Langkah ini sekaligus menegaskan peran Agribisnis UMM sebagai pusat pengembangan keilmuan yang solutif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Agribisnis UMM Mendampingi Sosialisasi PMB “Back to School” di SMAN 1 Taman Sidoarjo

Siswa Mengalami Pengalaman Praktis yang Menginspirasi Siswa SMAN 1 Taman Sidoarjo merasakan manfaat langsung dari kegiatan Back to School, khususnya dalam sesi yang dipandu mahasiswa Agribisnis UMM. Selain menerima informasi mengenai PMB, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan ide usaha mini berbasis pertanian, mempresentasikannya di depan kelompok, dan mendapatkan arahan langsung dari mahasiswa sebagai mentor. Pengalaman ini berbeda dari sosialisasi biasa. Siswa merasa lebih terlibat secara aktif, belajar bekerja dalam tim, menyusun strategi, dan memecahkan masalah secara kreatif. Kehadiran mahasiswa membantu siswa memahami proses berpikir praktis dan memotivasi mereka untuk mulai merancang langkah awal menuju pendidikan tinggi. Seorang siswa mengungkapkan, “Kehadiran mahasiswa membuat kami tidak hanya tahu tentang universitas, tapi juga merasakan bagaimana bekerja, berpikir, dan berinovasi seperti mahasiswa. Rasanya lebih nyata dan memberi inspirasi untuk masa depan.” Aktivitas ini membuktikan bahwa mahasiswa Agribisnis UMM tidak hanya mendukung universitas dalam menyampaikan informasi PMB, tetapi juga menjadi penggerak kegiatan edukatif yang mendalam, membangun pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa, sekaligus memperkuat citra UMM sebagai institusi yang peduli pada pengembangan kapasitas generasi muda.

Agribisnis UMM Ambil Peran Kreatif dalam Sosialisasi PMB “Back to School” di SMAN 1 Taman Sidoarjo

Mahasiswa Menjadi Mentor dan Fasilitator Kelompok Siswa Dalam rangka program Back to School UMM, mahasiswa Program Studi Agribisnis hadir di SMAN 1 Taman Sidoarjo bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai mentor langsung bagi kelompok-kelompok siswa yang mengikuti kegiatan interaktif. Setiap kelompok dibimbing mahasiswa untuk menyusun ide bisnis sederhana berbasis pertanian, mulai dari konsep hingga strategi pemasaran. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda, di mana siswa dapat mempraktikkan prinsip-prinsip dasar manajemen dan kreativitas bisnis secara nyata, sambil dibimbing oleh mahasiswa yang memberikan arahan dan tips praktis. Mahasiswa menekankan bagaimana kolaborasi, perencanaan, dan analisis pasar menjadi kunci dalam menjalankan usaha, sekaligus menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan inovasi sejak dini. Seorang mahasiswa mengatakan, “Kami ingin lebih dari sekadar menjelaskan prosedur PMB. Kehadiran kami sebagai mentor membuat siswa belajar aktif, berpikir kreatif, dan merasakan langsung pengalaman bekerja dalam tim hal yang sangat relevan untuk masa depan mereka.” Partisipasi mahasiswa ini memperlihatkan sinergi nyata antara universitas dan siswa, di mana mahasiswa berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan, sekaligus membangun ikatan edukatif yang memotivasi siswa untuk mengeksplorasi minat akademik dan keterampilan praktis mereka.