Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Dukung Penguatan Sinergi Pendidikan melalui Sosialisasi PMB Agribisnis

Menyelaraskan Kompetensi Lulusan SMK dengan Tantangan Agribisnis Berbasis Manajemen, Pasar, dan Inovasi Kegiatan sosialisasi PMB di SMKN 1 Tulungagung juga menjadi momentum strategis bagi Fakultas Pertanian-Peternakan UMM dalam mendukung penguatan sinergi antara pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi. Melalui keterlibatan Program Studi Agribisnis, FPP UMM berupaya membangun kesinambungan kompetensi yang selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri sektor agribisnis. Dalam pemaparannya, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc menjelaskan bahwa agribisnis modern menuntut penguasaan manajemen rantai pasok, analisis kelayakan usaha, perencanaan bisnis, serta pemahaman dinamika pasar global. Sektor ini berkembang pesat dan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu berpikir strategis dan adaptif terhadap perubahan. Sementara itu, Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P menekankan pentingnya inovasi dan nilai tambah dalam pengembangan komoditas pertanian. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa Agribisnis UMM didorong untuk aktif dalam penelitian terapan, kewirausahaan mahasiswa, serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan mampu menjadi problem solver yang berkontribusi nyata dalam penguatan ekonomi daerah. Dukungan FPP UMM melalui Agribisnis dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen kelembagaan untuk membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan berkelanjutan. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam mencetak lulusan yang kompeten, profesional, serta siap bersaing di sektor agribisnis nasional maupun global.

Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Dukung Sosialisasi PMB di SMKN 1 Tulungagung melalui Kiprah Agribisnis

Menguatkan Literasi Agribisnis Modern dan Membuka Akses Studi Lanjut bagi Generasi Muda Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmen strategisnya dalam mendukung kegiatan Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang dilaksanakan di SMKN 1 Tulungagung. Dukungan tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif Program Studi Agribisnis UMM yang hadir secara langsung memberikan pemahaman komprehensif mengenai prospek pendidikan tinggi dan peluang karier di bidang agribisnis. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc, bersama Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P, menyampaikan pemaparan akademik yang menekankan bahwa agribisnis merupakan disiplin ilmu strategis yang memadukan aspek produksi pertanian, manajemen usaha, pemasaran, hingga kebijakan pertanian dalam satu sistem yang terintegrasi. Agribisnis bukan sekadar aktivitas bertani, melainkan sebuah sistem ekonomi yang mengelola seluruh rantai nilai komoditas pertanian secara profesional dan berorientasi pasar. Para siswa diajak memahami bahwa tantangan sektor pertanian saat ini menuntut sumber daya manusia yang memiliki kemampuan analitis, manajerial, serta kewirausahaan yang kuat. Melalui kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), Agribisnis UMM menghadirkan pembelajaran aplikatif yang memadukan teori, praktik lapang, studi kasus, serta penguatan soft skills seperti kepemimpinan dan komunikasi bisnis. Kehadiran Agribisnis UMM dalam sosialisasi ini tidak hanya menjadi sarana promosi akademik, tetapi juga bentuk kontribusi nyata FPP UMM dalam memperluas literasi pendidikan tinggi di kalangan siswa SMK. Dukungan ini sekaligus menegaskan posisi Agribisnis UMM sebagai program studi yang relevan, progresif, dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan pertanian berbasis bisnis dan manajemen modern. Author: Aura Azizah Opal Labibah

Regenerasi Agribisnis: Antara Tantangan Persepsi dan Peluang Generasi Muda

MALANG, Sektor agribisnis Indonesia tengah menghadapi tantangan struktural yang serius: penuaan tenaga kerja dan rendahnya minat generasi muda untuk terlibat sebagai pelaku utama di sektor ini. Data menunjukkan proporsi pekerja muda di pertanian sangat kecil Gen Z (≤ 26 tahun) hanya menyumbang sekitar 2,14 persen dari total petani, sedangkan dominasi masih dipegang oleh Generasi X dan Baby Boomers. Tren ini berimplikasi pada turunnya kapasitas produktivitas dan potensi ancaman terhadap ketahanan pangan jangka menengah. Fenomena tersebut dikuatkan oleh laporan akademik yang menilai bahwa regenerasi petani di Indonesia tengah mengalami “darurat”. Studi penelitian menunjukkan bahwa anak petani kini cenderung memilih karier di luar sektor pertanian, berkaitan erat dengan persepsi bahwa pekerjaan pertanian kurang menjanjikan secara ekonomi dan kurang cocok dengan aspirasi karier mereka hari ini.   Pro Energi dan Potensi Generasi Muda Meski statistik partisipasi generasi muda relatif rendah, data global memperlihatkan bahwa youth masih menjadi bagian penting dari sistem agrifood, baik sebagai pekerja maupun sebagai agen perubahan dalam rantai nilai pangan. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 44 persen pekerja muda bergantung pada sistem agrifood untuk pekerjaan, jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa pada rentang usia lainnya. Laporan ini juga menggarisbawahi bahwa dengan profesionalisasi dan kesempatan kerja yang layak, keterlibatan generasi muda dapat memberikan nilai tambah ekonomi mencapai triliunan dolar global. Beberapa perkembangan di wilayah lain menunjukkan peningkatan partisipasi anak muda dalam agribisnis modern, terutama ketika dikaitkan dengan inovasi teknologi dan peluang wirausaha yang lebih jelas. Tren digitalisasi pertanian termasuk penggunaan IoT, big data, dan automasi menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi yang terbiasa dengan teknologi dan informasi.   Kontra Persepsi, Hambatan Struktur, dan Risiko Karier Meski peluang muncul, sejumlah faktor tetap menahan minat generasi muda untuk terjun ke agribisnis. Riset yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa faktor persepsi, rendahnya pendapatan, dan keterbatasan akses teknologi menjadi hambatan utama. Dalam survei lain, generasi muda sering memandang profesi di pertanian sebagai pekerjaan yang “fisik, tradisional, dan kurang prestisius”, sementara peluang karier dan kesejahteraan dirasakan lebih menjanjikan di sektor industri dan jasa. Faktor lain yang menghambat partisipasi muda adalah keterbatasan akses modal dan jaringan pasar, yang sering kali dirasakan oleh pelaku agribisnis pemula. Tanpa dukungan ekosistem yang kuat seperti pembiayaan inklusif, pelatihan teknologi, serta akses pasar ekspor atau modern retail generasi muda cenderung mencari pekerjaan yang lebih mudah di sektor lain.   Peran Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dengan Inovasi dan Kolaborasi Menanggapi realitas tersebut, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang mengambil pendekatan strategis untuk mengubah narasi keterlibatan generasi muda di agribisnis. Ketua Prodi, Zul Mazwan, menegaskan bahwa tantangan regenerasi bukan hanya soal angka partisipasi, tetapi bagaimana menciptakan ikon relevansi agribisnis bagi Gen Z. “Kita perlu membangun ekosistem pembelajaran yang menggabungkan teknologi, praktik industri, dan keterampilan bisnis modern,” ujarnya. Menurut Zul, pembelajaran agribisnis yang efektif harus mengintegrasikan studi pasar internasional, digitalisasi produksi, hingga kewirausahaan agritech sehingga lulusan tidak hanya siap bekerja di sektor tradisional, tetapi juga menjadi change agents di era agribisnis modern. Humas Agribisnis UMM, Festy Putri, menambahkan bahwa komunikasi naratif program studi diarahkan untuk mengubah persepsi tradisional. “Kami ingin generasi muda melihat agribisnis sebagai karier yang dinamis, strategis, dan berpotensi memberikan dampak sosial serta ekonomi.” kata Festy.   Garis Besar dan Arah Ke Depan Dalam jangka panjang, regenerasi agribisnis membutuhkan sinergi antara pemerintahan, akademisi, sektor swasta, dan komunitas pemuda itu sendiri. Pendekatan yang responsif terhadap aspirasi generasi muda termasuk pengembangan teknologi pertanian, akses pasar modern, dan sistem pendukung kewirausahaan dapat membuka ruang yang lebih besar bagi Gen Z untuk berkontribusi secara signifikan di sektor ini. Agribisnis modern kini bukan sekadar pekerjaan produksi, tetapi mencakup teknologi, akses data, pemasaran digital, serta strategi inovasi produk semuanya merupakan domain yang dekat dengan preferensi dan kemampuan generasi muda saat ini.   Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P Editor: Aura Azizah Opal Labibah

Isu Keberlanjutan Agribisnis: Tekanan Global, Tantangan Lokal, dan Peran Pendidikan Tinggi

MALANG, Permintaan pasar internasional terhadap produk agribisnis yang berkelanjutan, transparan, dan bertanggung jawab semakin meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Konsumen global kini tidak hanya membeli produk berdasarkan harga dan volume, melainkan juga berdasar nilai lingkungan dan sosial di baliknya. Ini menjadikan keberlanjutan bukan sekadar tren, tetapi standar baru dalam persaingan agribisnis global. Keberlanjutan Sebagai Standar Global Statistik terbaru menunjukkan bahwa pasar global untuk pertanian berkelanjutan diperkirakan akan tumbuh lebih dari 12 persen per tahun hingga 2030, dengan nilai total mencapai hampir USD 289 miliar. Ini tidak terlepas dari meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk dengan label eco-friendly, serta dorongan investasi yang besar pada teknologi dan praktik agribisnis yang mengurangi dampak lingkungan. Pandangan sistemik terhadap agribisnis global memperlihatkan bahwa tantangan keberlanjutan mencakup ketidakseimbangan antara kebutuhan produksi pangan dan batasan ekologis. Misalnya, model global menunjukkan bahwa dalam usaha memenuhi permintaan makanan, sering kali terjadi ekspansi lahan yang berpotensi merusak ekosistem hutan dan mengikis keanekaragaman hayati sebuah realitas yang harus dijawab melalui kebijakan integrative. Realitas Pasar Indonesia: Harapan dan tekanan regulator Di Indonesia sendiri, sektor agribisnis dan perkebunan nasional secara historis merupakan tulang punggung ekonomi. Sektor ini menyumbang sekitar 41,57 persen dari PDB sektor pertanian pada 2023, dengan nilai ekspor komoditas unggulan seperti sawit, kakao, kopi, dan kelapa mencapai ratusan triliun rupiah. Namun, tekanan terhadap keberlanjutan juga meningkat secara signifikan. Misalnya, implementasi regulasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan peningkatan standar internasional untuk produk yang ramah lingkungan menjadi tantangan sekaligus peluang. Sertifikasi seperti ISPO dipandang penting untuk mempertahankan akses pasar yang sensitif terhadap isu lingkungan, khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika. Dalam konteks ini, bagi pelaku agribisnis Indonesia, keberlanjutan bukan hanya soal etik produksi, tetapi juga strategi bertahan dalam perdagangan global yang semakin menuntut jejak lingkungan yang bersih dan etika sosial yang kuat. Pro Kontra dan Dilema Keberlanjutan Pro: Pendukung agenda keberlanjutan berargumen bahwa perubahan ini justru meningkatkan peluang produk Indonesia di pasar premium. Konsumen global kini lebih menghargai produk dengan jejak lingkungan rendah dan nilai sosial tinggi, sehingga produk lokal bisa meraih ceruk pasar baru dan meningkatkan nilai tambah. Hal ini sesuai dengan strategi diversifikasi produk yang digalakkan pemerintah dalam pengembangan agribisnis modern. Kontra: Namun, adaptasi terhadap standar keberlanjutan membawa konsekuensi nyata. Bagi petani kecil dan pelaku agribisnis UMKM, biaya adopsi praktik ramah lingkungan dan sertifikasi internasional bisa menjadi beban tambahan, terutama jika dukungan teknologi dan pendanaan belum merata. Beberapa pihak juga menilai bahwa tekanan keberlanjutan global belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi ekonomi negara berkembang, sehingga berpotensi menciptakan ketidakadilan dalam akses pasar. Tanggapan Akademik: Peran Pendidikan Tinggi Sekretaris Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Yohana Agustina, menggarisbawahi bahwa perubahan paradigma ini harus dijawab melalui pendidikan yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan sejak awal. “Keberlanjutan bukan sekadar slogan. Mahasiswa harus memahami arsitektur kebijakan global, mekanisme sertifikasi, serta kemampuan analitis untuk membaca dampak sosial dan lingkungan di balik setiap produk,” ujarnya. Menurut Yohana, kurikulum Agribisnis UMM kini dirancang untuk memadukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pembelajaran termasuk studi kasus global yang relevan dan praktik lapangan bersama pelaku industri. “Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab dalam kacamata global,” katanya. Strategi Inovasi dan Teknologi sebagai Jalan Tengah Sebagai respons, banyak pelaku agribisnis lokal yang mulai mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan dampak lingkungan yang positif. Digitalisasi di hulu-hilir, otomatisasi proses, dan penggunaan sistem pemantauan berbasis Internet of Things adalah contoh pendekatan yang kini diuji coba dan diadopsi secara bertahap. Langkah ini tidak hanya mendukung upaya keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam agribisnis berbasis pengetahuan. Penutup: Menyelaraskan Nilai dan Pasar Isu keberlanjutan agribisnis sejatinya mencerminkan pergeseran besar dalam cara pasar global memaknai nilai produk. Bagi Indonesia, terutama melalui dukungan kebijakan, inovasi teknologi, dan pendidikan tinggi yang responsif, tantangan ini membuka ruang untuk meningkatkan daya saing sambil memastikan pertanian dan agribisnis tumbuh secara berkelanjutan. Ke depan, keberlanjutan akan menjadi batu ujian bagi agribisnis Indonesia bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumen global, tetapi juga sebagai modal sosial dan ekonomi untuk menciptakan pertanian yang adil, produktif, serta ramah lingkungan.   Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P Editor: Aura Azizah Opal Labibah

Ekspor Agribisnis Indonesia Menguat, Nilai Tambah Masih Menjadi Tantangan Struktural

MALANG , Kinerja ekspor sektor agribisnis Indonesia menunjukkan tren positif dan menjadi bagian penting dari pencapaian surplus perdagangan nasional. Sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor komoditas pertanian tumbuh 38,25 persen, mencapai US$ 4,57 miliar, dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar US$ 3,30 miliar, menurut data resmi Kementerian Perdagangan RI. Lonjakan ini didukung oleh peningkatan permintaan global serta implementasi kebijakan perdagangan yang proaktif oleh pemerintah. Demikian pula, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor non-migas Indonesia mengalami peningkatan 13,72 persen pada Desember 2025, dengan komoditas pertanian dan industri pengolahan berkontribusi besar terhadap naiknya nilai ekspor tahunan nasional. Namun di balik angka impresif tersebut, terdapat dinamika struktural yang perlu dicermati. Meski nilai ekspor agribisnis tumbuh, proporsi besar dari komoditas ini masih berupa produk primer atau setengah jadi, seperti minyak kelapa sawit mentah, kopi mentah, atau rempah. Pendek kata, Indonesia masih sering mengekspor raw materials alih-alih produk bernilai tambah tinggi yang dapat menyerap lebih banyak devisa dan menciptakan multiplier effect ekonomi yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan analisis global yang menegaskan bahwa negara berkembang banyak yang “terjebak” bergantung pada ekspor komoditas primer. Penelitian yang dipublikasikan oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyatakan bahwa meskipun komoditas agrikultur merupakan penggerak signifikan dalam perdagangan global, nilai tambahlah yang akan menentukan diversifikasi dan ketahanan ekonomi jangka Panjang.   KONTEKS NASIONAL: HILIRISASI BELUM OPTIMAL Permasalahan nilai tambah ini terletak pada hilirisasi yang belum optimal. Pemerintah mendorong pergeseran mulai dari produksi bahan mentah ke produk olahan, dengan fokus pada tambahan nilai ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Rencana hilirisasi telah digulirkan untuk berbagai komoditas, termasuk kelapa sawit dan kelapa, yang produktivitasnya tinggi, namun masih banyak dipasarkan dalam bentuk dasar. Sebagai contoh, strategi hilirisasi yang dijalankan untuk minyak kelapa sawit dan turunannya diproyeksikan dapat menciptakan nilai tambah hingga Rp 90 triliun serta membuka puluhan ribu lapangan kerja baru pada 2025, termasuk melalui perluasan produk seperti biodiesel, Virgin Coconut Oil (VCO), dan bioplastik.   PRO KONTRA: EKSPOR DAN PEMBANGUNAN SDM Pro: Para pendukung agenda ekspor menilai bahwa lonjakan kinerja pertanian mencerminkan ketahanan ekonomi yang semakin kuat, sekaligus membuktikan bahwa produk agrikultur Indonesia punya ceruk pasar di luar negeri. Data BPS menunjukkan bahwa komoditas seperti CPO dan turunannya mencatat pertumbuhan signifikan, bahkan di tengah ketidakpastian global. Kontra: Namun, kritikus ekonomi menyatakan bahwa jika orientasi ekspor hanya mengandalkan bahan mentah, maka potensi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai global akan lambat. Ketergantungan pada komoditas mentah memosisikan negara sebagai supplier input, bukan sebagai produsen produk bernilai tinggi dan teknologi proses. Hal ini dapat memperlemah posisi tawar dalam negosiasi perdagangan global dan mengurangi dampak manfaat ekspor bagi kesejahteraan petani.   PERAN AGRIBISNIS UMM: MENJEMPUT MASA DEPAN NILAI TAMBAH Dalam konteks ini, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang melihat tantangan struktural sebagai peluang strategis pendidikan tinggi untuk berkontribusi pada transformasi sektor agribisnis. Ketua Program Studi, Zul Mazwan, menggarisbawahi bahwa kemampuan membaca pasar, inovasi produk, dan strategi hilirisasi harus menjadi kompetensi inti lulusan. “Jika kita hanya mengajarkan agribisnis sebagai produksi, kita ketinggalan. Agribisnis saat ini adalah tentang nilai, informasi pasar, dan kreativitas produk,” ujarnya. Menurut Zul, pendekatan kurikulum Agribisnis UMM sedang diperluas untuk mencakup analisis pasar global, pengembangan produk bernilai tambah, serta manajemen rantai pasok internasional sebuah respons terhadap tuntutan industri modern. Hal ini tidak hanya relevan bagi lulusan yang ingin berkecimpung dalam ekspor, tetapi juga dalam membangun ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan.   Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P Editor: Aura Azizah Opal Labibah