Regenerasi Agribisnis: Antara Tantangan Persepsi dan Peluang Generasi Muda

MALANG, Sektor agribisnis Indonesia tengah menghadapi tantangan struktural yang serius: penuaan tenaga kerja dan rendahnya minat generasi muda untuk terlibat sebagai pelaku utama di sektor ini. Data menunjukkan proporsi pekerja muda di pertanian sangat kecil Gen Z (≤ 26 tahun) hanya menyumbang sekitar 2,14 persen dari total petani, sedangkan dominasi masih dipegang oleh Generasi X dan Baby Boomers. Tren ini berimplikasi pada turunnya kapasitas produktivitas dan potensi ancaman terhadap ketahanan pangan jangka menengah. Fenomena tersebut dikuatkan oleh laporan akademik yang menilai bahwa regenerasi petani di Indonesia tengah mengalami “darurat”. Studi penelitian menunjukkan bahwa anak petani kini cenderung memilih karier di luar sektor pertanian, berkaitan erat dengan persepsi bahwa pekerjaan pertanian kurang menjanjikan secara ekonomi dan kurang cocok dengan aspirasi karier mereka hari ini.   Pro Energi dan Potensi Generasi Muda Meski statistik partisipasi generasi muda relatif rendah, data global memperlihatkan bahwa youth masih menjadi bagian penting dari sistem agrifood, baik sebagai pekerja maupun sebagai agen perubahan dalam rantai nilai pangan. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 44 persen pekerja muda bergantung pada sistem agrifood untuk pekerjaan, jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa pada rentang usia lainnya. Laporan ini juga menggarisbawahi bahwa dengan profesionalisasi dan kesempatan kerja yang layak, keterlibatan generasi muda dapat memberikan nilai tambah ekonomi mencapai triliunan dolar global. Beberapa perkembangan di wilayah lain menunjukkan peningkatan partisipasi anak muda dalam agribisnis modern, terutama ketika dikaitkan dengan inovasi teknologi dan peluang wirausaha yang lebih jelas. Tren digitalisasi pertanian termasuk penggunaan IoT, big data, dan automasi menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi yang terbiasa dengan teknologi dan informasi.   Kontra Persepsi, Hambatan Struktur, dan Risiko Karier Meski peluang muncul, sejumlah faktor tetap menahan minat generasi muda untuk terjun ke agribisnis. Riset yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa faktor persepsi, rendahnya pendapatan, dan keterbatasan akses teknologi menjadi hambatan utama. Dalam survei lain, generasi muda sering memandang profesi di pertanian sebagai pekerjaan yang “fisik, tradisional, dan kurang prestisius”, sementara peluang karier dan kesejahteraan dirasakan lebih menjanjikan di sektor industri dan jasa. Faktor lain yang menghambat partisipasi muda adalah keterbatasan akses modal dan jaringan pasar, yang sering kali dirasakan oleh pelaku agribisnis pemula. Tanpa dukungan ekosistem yang kuat seperti pembiayaan inklusif, pelatihan teknologi, serta akses pasar ekspor atau modern retail generasi muda cenderung mencari pekerjaan yang lebih mudah di sektor lain.   Peran Pendidikan Tinggi: Menjawab Tantangan dengan Inovasi dan Kolaborasi Menanggapi realitas tersebut, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang mengambil pendekatan strategis untuk mengubah narasi keterlibatan generasi muda di agribisnis. Ketua Prodi, Zul Mazwan, menegaskan bahwa tantangan regenerasi bukan hanya soal angka partisipasi, tetapi bagaimana menciptakan ikon relevansi agribisnis bagi Gen Z. “Kita perlu membangun ekosistem pembelajaran yang menggabungkan teknologi, praktik industri, dan keterampilan bisnis modern,” ujarnya. Menurut Zul, pembelajaran agribisnis yang efektif harus mengintegrasikan studi pasar internasional, digitalisasi produksi, hingga kewirausahaan agritech sehingga lulusan tidak hanya siap bekerja di sektor tradisional, tetapi juga menjadi change agents di era agribisnis modern. Humas Agribisnis UMM, Festy Putri, menambahkan bahwa komunikasi naratif program studi diarahkan untuk mengubah persepsi tradisional. “Kami ingin generasi muda melihat agribisnis sebagai karier yang dinamis, strategis, dan berpotensi memberikan dampak sosial serta ekonomi.” kata Festy.   Garis Besar dan Arah Ke Depan Dalam jangka panjang, regenerasi agribisnis membutuhkan sinergi antara pemerintahan, akademisi, sektor swasta, dan komunitas pemuda itu sendiri. Pendekatan yang responsif terhadap aspirasi generasi muda termasuk pengembangan teknologi pertanian, akses pasar modern, dan sistem pendukung kewirausahaan dapat membuka ruang yang lebih besar bagi Gen Z untuk berkontribusi secara signifikan di sektor ini. Agribisnis modern kini bukan sekadar pekerjaan produksi, tetapi mencakup teknologi, akses data, pemasaran digital, serta strategi inovasi produk semuanya merupakan domain yang dekat dengan preferensi dan kemampuan generasi muda saat ini.   Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P Editor: Aura Azizah Opal Labibah

Isu Keberlanjutan Agribisnis: Tekanan Global, Tantangan Lokal, dan Peran Pendidikan Tinggi

MALANG, Permintaan pasar internasional terhadap produk agribisnis yang berkelanjutan, transparan, dan bertanggung jawab semakin meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Konsumen global kini tidak hanya membeli produk berdasarkan harga dan volume, melainkan juga berdasar nilai lingkungan dan sosial di baliknya. Ini menjadikan keberlanjutan bukan sekadar tren, tetapi standar baru dalam persaingan agribisnis global. Keberlanjutan Sebagai Standar Global Statistik terbaru menunjukkan bahwa pasar global untuk pertanian berkelanjutan diperkirakan akan tumbuh lebih dari 12 persen per tahun hingga 2030, dengan nilai total mencapai hampir USD 289 miliar. Ini tidak terlepas dari meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk dengan label eco-friendly, serta dorongan investasi yang besar pada teknologi dan praktik agribisnis yang mengurangi dampak lingkungan. Pandangan sistemik terhadap agribisnis global memperlihatkan bahwa tantangan keberlanjutan mencakup ketidakseimbangan antara kebutuhan produksi pangan dan batasan ekologis. Misalnya, model global menunjukkan bahwa dalam usaha memenuhi permintaan makanan, sering kali terjadi ekspansi lahan yang berpotensi merusak ekosistem hutan dan mengikis keanekaragaman hayati sebuah realitas yang harus dijawab melalui kebijakan integrative. Realitas Pasar Indonesia: Harapan dan tekanan regulator Di Indonesia sendiri, sektor agribisnis dan perkebunan nasional secara historis merupakan tulang punggung ekonomi. Sektor ini menyumbang sekitar 41,57 persen dari PDB sektor pertanian pada 2023, dengan nilai ekspor komoditas unggulan seperti sawit, kakao, kopi, dan kelapa mencapai ratusan triliun rupiah. Namun, tekanan terhadap keberlanjutan juga meningkat secara signifikan. Misalnya, implementasi regulasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan peningkatan standar internasional untuk produk yang ramah lingkungan menjadi tantangan sekaligus peluang. Sertifikasi seperti ISPO dipandang penting untuk mempertahankan akses pasar yang sensitif terhadap isu lingkungan, khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika. Dalam konteks ini, bagi pelaku agribisnis Indonesia, keberlanjutan bukan hanya soal etik produksi, tetapi juga strategi bertahan dalam perdagangan global yang semakin menuntut jejak lingkungan yang bersih dan etika sosial yang kuat. Pro Kontra dan Dilema Keberlanjutan Pro: Pendukung agenda keberlanjutan berargumen bahwa perubahan ini justru meningkatkan peluang produk Indonesia di pasar premium. Konsumen global kini lebih menghargai produk dengan jejak lingkungan rendah dan nilai sosial tinggi, sehingga produk lokal bisa meraih ceruk pasar baru dan meningkatkan nilai tambah. Hal ini sesuai dengan strategi diversifikasi produk yang digalakkan pemerintah dalam pengembangan agribisnis modern. Kontra: Namun, adaptasi terhadap standar keberlanjutan membawa konsekuensi nyata. Bagi petani kecil dan pelaku agribisnis UMKM, biaya adopsi praktik ramah lingkungan dan sertifikasi internasional bisa menjadi beban tambahan, terutama jika dukungan teknologi dan pendanaan belum merata. Beberapa pihak juga menilai bahwa tekanan keberlanjutan global belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi ekonomi negara berkembang, sehingga berpotensi menciptakan ketidakadilan dalam akses pasar. Tanggapan Akademik: Peran Pendidikan Tinggi Sekretaris Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Yohana Agustina, menggarisbawahi bahwa perubahan paradigma ini harus dijawab melalui pendidikan yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan sejak awal. “Keberlanjutan bukan sekadar slogan. Mahasiswa harus memahami arsitektur kebijakan global, mekanisme sertifikasi, serta kemampuan analitis untuk membaca dampak sosial dan lingkungan di balik setiap produk,” ujarnya. Menurut Yohana, kurikulum Agribisnis UMM kini dirancang untuk memadukan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pembelajaran termasuk studi kasus global yang relevan dan praktik lapangan bersama pelaku industri. “Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab dalam kacamata global,” katanya. Strategi Inovasi dan Teknologi sebagai Jalan Tengah Sebagai respons, banyak pelaku agribisnis lokal yang mulai mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan dampak lingkungan yang positif. Digitalisasi di hulu-hilir, otomatisasi proses, dan penggunaan sistem pemantauan berbasis Internet of Things adalah contoh pendekatan yang kini diuji coba dan diadopsi secara bertahap. Langkah ini tidak hanya mendukung upaya keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam agribisnis berbasis pengetahuan. Penutup: Menyelaraskan Nilai dan Pasar Isu keberlanjutan agribisnis sejatinya mencerminkan pergeseran besar dalam cara pasar global memaknai nilai produk. Bagi Indonesia, terutama melalui dukungan kebijakan, inovasi teknologi, dan pendidikan tinggi yang responsif, tantangan ini membuka ruang untuk meningkatkan daya saing sambil memastikan pertanian dan agribisnis tumbuh secara berkelanjutan. Ke depan, keberlanjutan akan menjadi batu ujian bagi agribisnis Indonesia bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumen global, tetapi juga sebagai modal sosial dan ekonomi untuk menciptakan pertanian yang adil, produktif, serta ramah lingkungan.   Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P Editor: Aura Azizah Opal Labibah

Ekspor Agribisnis Indonesia Menguat, Nilai Tambah Masih Menjadi Tantangan Struktural

MALANG , Kinerja ekspor sektor agribisnis Indonesia menunjukkan tren positif dan menjadi bagian penting dari pencapaian surplus perdagangan nasional. Sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor komoditas pertanian tumbuh 38,25 persen, mencapai US$ 4,57 miliar, dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar US$ 3,30 miliar, menurut data resmi Kementerian Perdagangan RI. Lonjakan ini didukung oleh peningkatan permintaan global serta implementasi kebijakan perdagangan yang proaktif oleh pemerintah. Demikian pula, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor non-migas Indonesia mengalami peningkatan 13,72 persen pada Desember 2025, dengan komoditas pertanian dan industri pengolahan berkontribusi besar terhadap naiknya nilai ekspor tahunan nasional. Namun di balik angka impresif tersebut, terdapat dinamika struktural yang perlu dicermati. Meski nilai ekspor agribisnis tumbuh, proporsi besar dari komoditas ini masih berupa produk primer atau setengah jadi, seperti minyak kelapa sawit mentah, kopi mentah, atau rempah. Pendek kata, Indonesia masih sering mengekspor raw materials alih-alih produk bernilai tambah tinggi yang dapat menyerap lebih banyak devisa dan menciptakan multiplier effect ekonomi yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan analisis global yang menegaskan bahwa negara berkembang banyak yang “terjebak” bergantung pada ekspor komoditas primer. Penelitian yang dipublikasikan oleh Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyatakan bahwa meskipun komoditas agrikultur merupakan penggerak signifikan dalam perdagangan global, nilai tambahlah yang akan menentukan diversifikasi dan ketahanan ekonomi jangka Panjang.   KONTEKS NASIONAL: HILIRISASI BELUM OPTIMAL Permasalahan nilai tambah ini terletak pada hilirisasi yang belum optimal. Pemerintah mendorong pergeseran mulai dari produksi bahan mentah ke produk olahan, dengan fokus pada tambahan nilai ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Rencana hilirisasi telah digulirkan untuk berbagai komoditas, termasuk kelapa sawit dan kelapa, yang produktivitasnya tinggi, namun masih banyak dipasarkan dalam bentuk dasar. Sebagai contoh, strategi hilirisasi yang dijalankan untuk minyak kelapa sawit dan turunannya diproyeksikan dapat menciptakan nilai tambah hingga Rp 90 triliun serta membuka puluhan ribu lapangan kerja baru pada 2025, termasuk melalui perluasan produk seperti biodiesel, Virgin Coconut Oil (VCO), dan bioplastik.   PRO KONTRA: EKSPOR DAN PEMBANGUNAN SDM Pro: Para pendukung agenda ekspor menilai bahwa lonjakan kinerja pertanian mencerminkan ketahanan ekonomi yang semakin kuat, sekaligus membuktikan bahwa produk agrikultur Indonesia punya ceruk pasar di luar negeri. Data BPS menunjukkan bahwa komoditas seperti CPO dan turunannya mencatat pertumbuhan signifikan, bahkan di tengah ketidakpastian global. Kontra: Namun, kritikus ekonomi menyatakan bahwa jika orientasi ekspor hanya mengandalkan bahan mentah, maka potensi Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai global akan lambat. Ketergantungan pada komoditas mentah memosisikan negara sebagai supplier input, bukan sebagai produsen produk bernilai tinggi dan teknologi proses. Hal ini dapat memperlemah posisi tawar dalam negosiasi perdagangan global dan mengurangi dampak manfaat ekspor bagi kesejahteraan petani.   PERAN AGRIBISNIS UMM: MENJEMPUT MASA DEPAN NILAI TAMBAH Dalam konteks ini, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang melihat tantangan struktural sebagai peluang strategis pendidikan tinggi untuk berkontribusi pada transformasi sektor agribisnis. Ketua Program Studi, Zul Mazwan, menggarisbawahi bahwa kemampuan membaca pasar, inovasi produk, dan strategi hilirisasi harus menjadi kompetensi inti lulusan. “Jika kita hanya mengajarkan agribisnis sebagai produksi, kita ketinggalan. Agribisnis saat ini adalah tentang nilai, informasi pasar, dan kreativitas produk,” ujarnya. Menurut Zul, pendekatan kurikulum Agribisnis UMM sedang diperluas untuk mencakup analisis pasar global, pengembangan produk bernilai tambah, serta manajemen rantai pasok internasional sebuah respons terhadap tuntutan industri modern. Hal ini tidak hanya relevan bagi lulusan yang ingin berkecimpung dalam ekspor, tetapi juga dalam membangun ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan.   Author: Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P Editor: Aura Azizah Opal Labibah

Agribisnis UMM Cetak Mahasiswa Berdaya Saing Global Lewat Penguatan Soft Skills dan Literasi Budaya

Program student exchange tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan global mahasiswa Selain penguatan kompetensi akademik, Program Student Exchange Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Kasetsart University, Thailand, juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan soft skills, literasi budaya, dan kapasitas adaptasi mahasiswa di lingkungan internasional. Selama mengikuti program ini, mahasiswa berada dalam atmosfer akademik multinasional yang memungkinkan terjadinya interaksi intensif dengan mahasiswa dari berbagai negara di kawasan Asia maupun Eropa. Interaksi lintas negara tersebut menjadi sarana strategis bagi mahasiswa Agribisnis UMM untuk membangun jejaring global, memperluas wawasan internasional, serta mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya baik dalam konteks akademik maupun sosial. Pengalaman ini sangat penting dalam membentuk kepercayaan diri, keterampilan kolaborasi, serta sikap profesional yang dibutuhkan dalam dunia agribisnis global yang semakin kompetitif. Melalui mata kuliah Life Skills in Thai Society for Foreigners dan Introductory Thai Usage, mahasiswa Agribisnis UMM, termasuk Anastya Rifa Wardhani, memperoleh pemahaman komprehensif mengenai nilai-nilai sosial, budaya, dan etika masyarakat Thailand. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada penguasaan dasar bahasa, tetapi juga pada pemahaman norma, tradisi, pola interaksi sosial, serta strategi adaptasi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan internasional. Hal ini memperkuat sensitivitas budaya mahasiswa serta kemampuan mereka untuk beradaptasi di berbagai konteks global.   Pengalaman lintas budaya mahasiswa semakin diperkaya melalui berbagai kegiatan pendukung, seperti workshop bersama Ministry of Culture Thailand, kunjungan akademik ke Museum Hall of History Kasetsart University, serta partisipasi aktif dalam kegiatan orientasi mahasiswa internasional. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pemahaman historis, kultural, dan institusional yang mendalam mengenai Thailand sebagai salah satu pusat pengembangan pendidikan dan pertanian di Asia Tenggara. Dalam salah satu kegiatan simbolik, mahasiswa Agribisnis UMM bahkan dipercaya untuk menjadi perwakilan dalam prosesi penyerahan tanaman sebagai simbol nilai keberlanjutan, keseimbangan ekosistem, dan harmoni antara manusia dan alam. Keterlibatan ini mencerminkan kepercayaan institusi mitra terhadap mahasiswa Agribisnis UMM serta relevansi nilai-nilai keberlanjutan yang diusung dalam kurikulum Agribisnis UMM. Pengalaman internasional tersebut menegaskan bahwa Agribisnis UMM tidak hanya berfokus pada pencetakan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter global, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki sensitivitas budaya yang kuat. Program Student Exchange ini menjadi bukti nyata komitmen Agribisnis UMM dalam menyiapkan generasi profesional agribisnis yang mampu berkontribusi secara aktif dalam pembangunan pertanian berkelanjutan di era globalisasi.

Belajar Pertanian Tropis dari Asia Tenggara: Mahasiswa Agribisnis UMM Tempuh Pengalaman Akademik Global

Dari ruang kelas internasional hingga laboratorium lapangan, Agribisnis UMM menyiapkan mahasiswa berwawasan global dan kontekstual Selama mengikuti Program Student Exchange di Kasetsart University, Thailand, mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperoleh pengalaman akademik yang komprehensif, terstruktur, dan berorientasi global. Program pembelajaran ini dirancang secara khusus untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai karakteristik pertanian tropis, sistem agribisnis modern, serta praktik pembangunan pertanian berkelanjutan yang relevan dengan kondisi negara-negara berkembang, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kurikulum yang diikuti menekankan integrasi antara aspek teknis pertanian, manajerial agribisnis, serta dimensi sosial dan kelembagaan. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis, tetapi juga dilatih untuk memahami dinamika sektor pertanian secara holistik dalam konteks global. Hal ini sejalan dengan upaya Agribisnis UMM dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan analitis, adaptif, dan berwawasan internasional. Berbagai mata kuliah strategis yang diikuti, seperti Introduction to Tropical Agriculture, Principles of Tropical Agronomy, Perspective in Agricultural Extension, hingga Principles of Management, menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir mahasiswa. Materi perkuliahan mendorong mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara proses produksi pertanian, pengelolaan sumber daya alam, kebijakan pertanian, serta dinamika sosial ekonomi masyarakat agraris. Pendekatan ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam melihat agribisnis sebagai suatu sistem yang kompleks dan saling terintegrasi. Salah satu mahasiswa Agribisnis UMM yang mengikuti program ini, Anastya Rifa Wardhani, mendapatkan kesempatan untuk terlibat aktif dalam suasana akademik multinasional yang menuntut kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta pemikiran kritis dalam bahasa pengantar internasional. Pengalaman tersebut menjadi sarana pembelajaran yang signifikan dalam meningkatkan kompetensi akademik sekaligus pengembangan soft skills yang sangat dibutuhkan di dunia kerja global. Keunggulan proses pembelajaran semakin terasa melalui pelaksanaan kegiatan field trip akademik ke berbagai pusat riset dan kawasan pertanian unggulan di Thailand. Mahasiswa mengunjungi Suwan Farm sebagai pusat riset jagung dan serealia, Kamphaeng Saen Campus yang dikenal dengan pengembangan varietas padi serta integrasi sistem tanaman ternak, hingga pusat penelitian komoditas karet dan kelapa. Kegiatan ini memberikan pengalaman empiris yang memperkaya pemahaman mahasiswa dalam mengaitkan konsep teoritis dengan praktik agribisnis secara langsung di lapangan. Model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) ini menunjukkan kekuatan pendekatan akademik Agribisnis UMM yang menekankan integrasi antara ilmu pengetahuan, praktik lapangan, dan konteks global. Pengalaman internasional yang diperoleh selama mengikuti program student exchange di Kasetsart University menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam memahami kompleksitas sistem agribisnis lintas negara, sekaligus memperkuat daya saing lulusan Agribisnis UMM di tingkat nasional maupun internasional.

Agribisnis UMM Perkuat Internasionalisasi Melalui Student Exchange di Kasetsart University Thailand

Mahasiswa Agribisnis UMM menempuh satu semester pembelajaran pertanian tropis berstandar global di salah satu universitas terbaik Asia Tenggara Mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kiprah dan daya saingnya di tingkat internasional melalui partisipasi dalam Program Student Exchange di Kasetsart University, Thailand. Program ini menjadi wujud nyata komitmen Agribisnis UMM dalam mengembangkan pendidikan tinggi berwawasan global serta menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap dinamika sektor pertanian dan agribisnis internasional. Program Student Exchange ini memungkinkan mahasiswa Agribisnis UMM untuk menempuh satu semester pembelajaran di Program Bachelor of Science in Tropical Agriculture (International Program) Kasetsart University. Sebagai salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara dalam bidang pertanian, Kasetsart University dikenal luas atas keunggulannya dalam pengembangan ilmu pertanian tropis, riset berbasis keberlanjutan, serta inovasi agrikultur yang relevan dengan tantangan global. Melalui kerja sama akademik yang telah terjalin secara resmi antara Fakultas Pertanian Peternakan UMM dan Kasetsart University, mahasiswa Agribisnis UMM mendapatkan pengalaman akademik yang komprehensif dalam lingkungan internasional. Selama mengikuti program ini, mahasiswa terlibat langsung dalam perkuliahan, diskusi akademik, serta aktivitas pembelajaran yang mengintegrasikan teori, praktik, dan studi kasus pertanian tropis dari berbagai negara. Salah satu mahasiswa Agribisnis UMM yang mengikuti program ini adalah Anastya Rifa Wardhani. Keikutsertaan Anastya mencerminkan kesiapan akademik, kematangan kurikulum Agribisnis UMM, serta kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi dengan sistem pendidikan dan budaya akademik global. Proses pembelajaran yang menggunakan bahasa pengantar internasional turut mendorong penguatan kompetensi komunikasi, pemikiran kritis, serta kemampuan analisis mahasiswa terhadap isu-isu agribisnis kontemporer di tingkat regional dan global. Lingkungan akademik multinasional di Kasetsart University memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa Agribisnis UMM untuk berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa dari berbagai negara. Hal ini tidak hanya memperluas wawasan keilmuan, tetapi juga membentuk sikap profesional, keterbukaan budaya, serta jejaring internasional yang sangat penting bagi pengembangan karier di sektor agribisnis masa depan. Bagi Program Studi Agribisnis UMM, pelaksanaan student exchange ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang internasionalisasi pendidikan. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas mahasiswa, tetapi juga sebagai instrumen penguatan reputasi institusi, peningkatan mutu akademik, serta perluasan jejaring kerja sama internasional. Inisiatif ini sejalan dengan visi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai world class university yang menjunjung tinggi nilai keilmuan, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Melalui program-program internasional seperti student exchange, Agribisnis UMM terus berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang unggul, relevan, dan berdaya saing global. Ke depan, Agribisnis UMM berkomitmen untuk terus memperluas kolaborasi internasional guna mencetak lulusan agribisnis yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap berkontribusi secara nyata dalam pembangunan pertanian berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

Internasionalisasi Pendidikan Agribisnis UMM: Student Exchange Jadi Ruang Pembentukan Kompetensi Global

Pengalaman Multikultural Perkuat Daya Saing Mahasiswa di Era Agribisnis Global Internasionalisasi pendidikan menjadi salah satu strategi utama Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menjawab tantangan globalisasi sektor pertanian. Melalui program Student Exchange di Silpakorn University, Thailand, mahasiswa Agribisnis UMM memperoleh ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga multikultural dan berwawasan global. Selama menjalani perkuliahan di lingkungan akademik internasional, mahasiswa berinteraksi langsung dengan mahasiswa lokal serta civitas akademika dari berbagai latar belakang budaya. Situasi ini menjadi media pembelajaran yang efektif dalam membangun kemampuan komunikasi lintas budaya, kerja sama internasional, serta sikap adaptif terhadap dinamika global kompetensi esensial bagi lulusan agribisnis masa depan. Selain mengikuti perkuliahan, mahasiswa juga terlibat dalam berbagai aktivitas akademik berbasis lapangan yang mendukung penguatan pemahaman agribisnis secara menyeluruh. Pembelajaran mengenai sistem pertanian modern, pengelolaan produksi, serta praktik agribisnis berkelanjutan menjadi bagian dari pengalaman akademik yang memperkaya perspektif mahasiswa. Keberhasilan pelaksanaan program student exchange ini mencerminkan kesiapan Program Studi Agribisnis UMM dalam membangun ekosistem pendidikan yang terbuka, kolaboratif, dan berorientasi internasional. Dengan terus mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam program global, Agribisnis UMM menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan dan daya saing global.

Mahasiswa Agribisnis UMM Dalami Pertanian Modern dan Peternakan Berbasis Kampus di Thailand

Pembelajaran Lapang Internasional Dorong Penguatan Kompetensi Praktis Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas bentuk pembelajaran kontekstual melalui kerja sama internasional. Salah satu wujud nyata dari upaya tersebut adalah keterlibatan mahasiswa Agribisnis UMM dalam program Student Exchange di Silpakorn University, Thailand, yang memberikan pengalaman pembelajaran lapang berbasis praktik agribisnis modern. Selama mengikuti program tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan praktik, seperti budidaya sayuran hidroponik dan kunjungan ke peternakan ayam petelur milik universitas. Pada praktik hidroponik, mahasiswa mempelajari tahapan produksi secara menyeluruh, mulai dari persiapan instalasi, proses penanaman, perawatan tanaman, hingga tahap pemanenan. Sementara itu, melalui kunjungan ke peternakan ayam petelur, mahasiswa mendapatkan wawasan mendalam mengenai sistem produksi peternakan modern. Pembelajaran mencakup pengenalan grade telur berdasarkan standar kualitas, manajemen produksi, serta siklus hidup ayam petelur sebagai bagian dari rantai agribisnis yang terintegrasi. Model pembelajaran berbasis praktik internasional ini sejalan dengan visi Program Studi Agribisnis UMM dalam mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian dan peternakan. Dengan mengintegrasikan pengalaman global ke dalam proses pembelajaran, Agribisnis UMM memperkuat posisi mahasiswanya sebagai calon pelaku agribisnis yang kompeten, inovatif, dan siap bersaing di tingkat internasional.

Perluas Jejaring Global, Mahasiswa Agribisnis UMM Tempuh Student Exchange di Thailand

Pengalaman Akademik Internasional di Silpakorn University Perkuat Kompetensi Global Mahasiswa Komitmen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mencetak sumber daya manusia berdaya saing global kembali diwujudkan melalui partisipasi mahasiswanya dalam program Student Exchange internasional. Salah satu mahasiswa Agribisnis UMM, Anastya Siasah, mengikuti program pertukaran mahasiswa selama satu semester di Silpakorn University, Thailand, sebuah perguruan tinggi ternama di Asia Tenggara. Program student exchange ini berlangsung selama Semester 3, dengan periode pembelajaran mulai 7 Juli hingga 31 Oktober 2025. Dalam kegiatan tersebut, Anastya didampingi oleh mahasiswa Agribisnis UMM angkatan 2023, Faturrahman Fawaz Firdian, yang turut menjadi representasi mahasiswa Agribisnis UMM di kancah internasional. Selama mengikuti perkuliahan di Silpakorn University, mahasiswa memperoleh pengalaman akademik yang komprehensif melalui sistem pembelajaran yang interaktif, aplikatif, dan berorientasi global. Tidak hanya berlangsung di ruang kelas, proses pembelajaran juga dilakukan melalui kegiatan praktik lapang yang relevan dengan pengembangan sektor agribisnis modern. Salah satu pengalaman penting yang diperoleh adalah pembelajaran mengenai proses budidaya sayuran hidroponik, mulai dari tahap penanaman hingga pemanenan. Kegiatan ini memberikan pemahaman langsung terkait sistem pertanian berkelanjutan yang efisien, adaptif terhadap keterbatasan lahan, serta memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu, mahasiswa juga berkesempatan mengunjungi peternakan ayam petelur milik universitas, sebagai bagian dari pengenalan agribisnis berbasis peternakan. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mempelajari sistem produksi ayam petelur, termasuk pemahaman mengenai grade telur, standar kualitas hasil produksi, serta siklus hidup ayam petelur dari fase awal hingga masa produksi. Pembelajaran berbasis praktik ini memperkuat keterkaitan antara teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan implementasi nyata di lapangan. Tidak hanya dari sisi akademik, pengalaman budaya juga menjadi nilai tambah dalam program ini. Interaksi dengan mahasiswa lokal serta masyarakat Thailand yang terbuka dan ramah memberikan pembelajaran sosial dan kultural yang memperkaya perspektif mahasiswa. Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari keberangkatan, proses pembelajaran, hingga kepulangan ke Indonesia, berlangsung dengan lancar dan aman. Keikutsertaan mahasiswa Agribisnis UMM dalam program student exchange ini semakin menegaskan posisi UMM sebagai perguruan tinggi yang aktif mendorong internasionalisasi pendidikan. Program Studi Agribisnis UMM secara konsisten membuka akses pembelajaran global guna mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi praktis, wawasan internasional, dan kesiapan menghadapi tantangan sektor agribisnis di tingkat global. Melalui program ini, Agribisnis UMM terus menunjukkan eksistensinya sebagai program studi yang adaptif terhadap dinamika global, progresif dalam pengembangan mahasiswa, serta berorientasi pada penciptaan lulusan berkarakter, berwawasan internasional, dan berdaya saing tinggi.

Agribisnis UMM Siapkan Kelas COE 2026: Proyeksi Generasi Ekspor yang Siap Tembus Pasar Global

Malang, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertegas komitmennya dalam menyiapkan SDM agribisnis yang adaptif, berdaya saing, dan memiliki orientasi global. Memasuki kalender akademik 2026, prodi ini sedang merampungkan persiapan Kelas Center of Excellence (COE) Profesional Ekspor Agribisnis, yang akan memasuki angkatan keempat. Langkah ini hadir sebagai respons atas meningkatnya peluang agribisnis Indonesia di pasar internasional. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara eksportir agro utama di Asia Tenggara untuk komoditas seperti kopi, rempah, minyak nabati, dan pangan olahan. Namun, pelaku usaha kerap terkendala pada aspek teknis seperti dokumentasi perdagangan, kepatuhan standar mutu, logistik, serta segmentasi pasar global. Di sisi lain, tenaga kerja terlatih yang memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat terbatas. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc mengungkapkan bahwa pembukaan kembali COE pada 2026 merupakan bentuk konsistensi kampus dalam menjembatani ruang antara dunia akademik dan ekosistem ekspor. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran, tetapi menempatkan mahasiswa pada konteks rantai nilai global. Mereka belajar dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujarnya. COE edisi 2026 akan menghadirkan kurikulum yang memadukan tiga elemen utama, yakni pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, serta analisis penetrasi pasar internasional. Dengan skema tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami seluruh alur ekspor mulai dari potensi komoditas, standardisasi, legalitas, hingga pengiriman. Lebih jauh, Agribisnis UMM memastikan keterlibatan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah beroperasi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lain dijadwalkan menjadi pengajar tamu sepanjang semester pelaksanaan. Melalui kelas ini, kampus berharap lahir generasi eksportir muda yang tidak hanya mengandalkan intuisi bisnis, tetapi menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi produk, hingga manajemen risiko global. “Era agribisnis ke depan meminta SDM yang mengerti konteks global mulai dari tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan, isu karbon, hingga preferensi konsumen di setiap kawasan,” tambahnya. COE Agribisnis UMM kini menjadi salah satu kelas paling diminati karena mampu membuka dua kemungkinan karier sekaligus membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri melalui ekosistem pembelajaran dan inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan yang semakin matang, 2026 diproyeksikan menjadi tahun penting bagi COE angkatan keempat untuk berperan dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia.