Agribisnis UMM Siap Jajaki Kerja Sama dengan Miyazaki University Jepang

Kolaborasi internasional ini membuka peluang penguatan riset, pertukaran akademik, dan pengembangan agribisnis berkelanjutan Malang – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas jejaring akademik internasional. Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah penjajakan kerja sama dengan Miyazaki University, salah satu perguruan tinggi di Jepang yang dikenal memiliki kekuatan riset di bidang pertanian dan ilmu hayati. Inisiatif penjajakan kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen Agribisnis UMM dalam meningkatkan kualitas akademik melalui kolaborasi global. Kerja sama yang direncanakan mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga pengembangan inovasi di sektor agribisnis. Kolaborasi lintas negara seperti ini dinilai penting dalam menghadapi tantangan sektor pertanian modern yang semakin kompleks. Transformasi pertanian menuju sistem agribisnis yang berkelanjutan membutuhkan sinergi keilmuan, teknologi, serta pengalaman internasional. Sebagai perguruan tinggi yang terus berkembang, UMM memandang kerja sama internasional sebagai salah satu strategi penting dalam memperkuat kapasitas riset dan pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui kolaborasi dengan universitas luar negeri, mahasiswa dan dosen diharapkan dapat memperoleh perspektif global dalam pengembangan sektor pertanian dan agribisnis. Sementara itu, Miyazaki University dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Jepang yang aktif mengembangkan riset di bidang pertanian tropis, teknologi pangan, serta pengelolaan sumber daya pertanian berkelanjutan. Kesamaan fokus kajian tersebut menjadi landasan kuat bagi potensi kolaborasi dengan Agribisnis UMM. Rencana kerja sama ini juga membuka peluang bagi pengembangan program internasional seperti joint research, student exchange, hingga kegiatan akademik bersama yang dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa. Melalui penjajakan kerja sama ini, Agribisnis UMM kembali menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menjadi program studi yang adaptif terhadap dinamika global. Kolaborasi internasional diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor agribisnis yang inovatif dan berdaya saing global.

Angkat Nilai Sayuran Lokal, Agribisnis UMM Berbagi Takjil yang Berbeda

Aksi Sosial Ini Sekaligus Mengingatkan Pentingnya Menghargai Komoditas Pertanian Malang – Berbeda dari kegiatan berbagi takjil pada umumnya, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memilih membagikan paket sayuran segar kepada masyarakat selama bulan Ramadan. Langkah ini menjadi bentuk aksi sosial sekaligus kampanye sederhana untuk meningkatkan apresiasi terhadap komoditas pertanian lokal. Dalam perspektif agribisnis, sayuran merupakan komoditas hortikultura yang memiliki peran penting dalam sistem pangan masyarakat. Selain menjadi sumber gizi yang baik, produk hortikultura juga merupakan hasil kerja keras petani yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan nasional. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM ingin mengingatkan bahwa berbagi tidak harus selalu dalam bentuk makanan siap santap. Memberikan bahan pangan segar seperti sayuran justru memiliki nilai manfaat yang lebih luas karena dapat diolah menjadi berbagai hidangan bergizi di rumah. Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Banyak warga mengapresiasi ide kreatif yang dinilai unik sekaligus bermanfaat. Beberapa warga bahkan menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan perspektif baru tentang tradisi berbagi selama Ramadan. Selain membantu kebutuhan pangan rumah tangga, kegiatan ini juga dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap produk pertanian. Bagi Agribisnis UMM, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendekatkan sektor pertanian dengan masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya komoditas hortikultura, nilai kerja petani, serta konsumsi pangan sehat menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui aksi sosial tersebut. Melalui kegiatan yang sederhana namun penuh makna ini, Agribisnis UMM kembali menunjukkan perannya sebagai institusi akademik yang tidak hanya unggul dalam kajian agribisnis, tetapi juga aktif menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Ramadan Sehat: Agribisnis UMM Edukasi Masyarakat Lewat Takjil Sayuran

Berbagi Sayur Segar Menjadi Cara Kreatif Mengenalkan Pentingnya Konsumsi Pangan Sehat Malang – Tradisi berbagi takjil menjelang waktu berbuka puasa telah menjadi pemandangan yang lazim selama bulan Ramadan. Namun di tengah dominasi makanan dan minuman manis dalam kegiatan tersebut, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pendekatan berbeda dengan membagikan paket sayuran segar kepada masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai aksi sosial berbagi kepada sesama, tetapi juga sebagai sarana edukasi pangan sehat. Melalui pembagian sayuran, Agribisnis UMM ingin mengingatkan masyarakat akan pentingnya konsumsi sayur sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, terutama setelah menjalani puasa seharian. Sayuran yang dibagikan merupakan komoditas hortikultura yang umum dikonsumsi masyarakat sehari-hari dan mudah diolah menjadi berbagai menu berbuka maupun sahur. Langkah ini sekaligus menjadi pesan bahwa takjil tidak selalu identik dengan makanan tinggi gula, tetapi juga dapat berupa bahan pangan yang lebih bergizi. Respons masyarakat terhadap kegiatan ini pun sangat positif. Banyak warga mengaku senang karena mendapatkan bahan pangan yang dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. “Jarang sekali ada takjil berupa sayuran. Ini sangat bermanfaat karena bisa dimasak untuk keluarga,” ungkap salah seorang warga penerima paket sayur. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi pangan tidak selalu harus dilakukan melalui seminar atau forum akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui aksi sederhana yang menyentuh masyarakat secara langsung. Sebagai program studi yang fokus pada pengembangan sektor pertanian dan pangan, Agribisnis UMM terus mendorong literasi konsumsi pangan sehat kepada masyarakat. Pendekatan ini menjadi bagian dari kontribusi akademik dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pangan bergizi dan berkelanjutan. Melalui kegiatan berbagi sayuran ini, Agribisnis UMM kembali menunjukkan bahwa ilmu agribisnis tidak hanya berkembang di ruang kelas, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat.

Di Tengah Gempuran Takjil Manis, Agribisnis UMM Berbagi Takjil Sayuran

Aksi Berbagi Sayuran Segar Ini Mendapat Sambutan Hangat dari Masyarakat Malang – Di tengah maraknya kegiatan berbagi takjil yang umumnya didominasi makanan dan minuman manis, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan pendekatan yang berbeda. Melalui kegiatan berbagi takjil berupa sayuran segar kepada masyarakat, Agribisnis UMM mengajak warga untuk tidak hanya menikmati momentum berbuka puasa, tetapi juga meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya konsumsi pangan sehat. Kegiatan tersebut berlangsung di sekitar lingkungan kampus dan disambut dengan antusias oleh masyarakat. Berbagai paket sayuran segar dibagikan kepada pengguna jalan serta warga sekitar yang melintas menjelang waktu berbuka puasa. Inisiatif ini menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus edukasi sederhana mengenai pentingnya konsumsi sayur sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. Berbeda dari takjil pada umumnya yang identik dengan makanan tinggi gula, sayuran yang dibagikan justru membawa pesan tentang pentingnya gizi seimbang. Dalam perspektif agribisnis, konsumsi sayur dan produk hortikultura lokal memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat sistem pangan domestik. Menariknya, kegiatan ini justru mendapat respons yang sangat positif dari masyarakat. Banyak warga mengapresiasi langkah kreatif yang dilakukan oleh Agribisnis UMM karena dianggap menghadirkan ide baru dalam tradisi berbagi selama Ramadan. “Biasanya dapat takjil gorengan atau minuman manis, ini justru dapat sayur. Bagus sekali, bisa langsung dimasak di rumah,” ujar salah satu warga yang menerima paket sayuran tersebut. Apresiasi serupa juga datang dari masyarakat yang menilai bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga edukatif. Melalui aksi sederhana ini, masyarakat diajak untuk lebih menghargai komoditas pertanian sekaligus meningkatkan konsumsi pangan sehat. Bagi Agribisnis UMM, kegiatan berbagi takjil sayuran ini menjadi bagian dari upaya membumikan nilai-nilai agribisnis kepada masyarakat. Tidak hanya berbicara tentang produksi dan pemasaran komoditas pertanian, tetapi juga bagaimana sektor agribisnis dapat memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Sebagai salah satu program studi yang aktif mengembangkan kajian pertanian modern, Agribisnis UMM terus mendorong berbagai kegiatan yang menghubungkan dunia akademik dengan masyarakat secara langsung. Kegiatan berbagi sayuran ini menjadi contoh sederhana bagaimana ilmu agribisnis dapat diterjemahkan dalam aksi sosial yang kreatif dan relevan. Melalui langkah inovatif ini, Agribisnis UMM kembali menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi dan inspirasi bagi masyarakat. Di tengah tradisi berbagi takjil yang telah menjadi budaya Ramadan, berbagi sayuran menjadi pesan sederhana namun bermakna: bahwa pangan sehat juga bisa menjadi bagian dari kebahagiaan berbuka puasa.

Siapa Tak Suka Cabai di Era Kuliner Pedas? Begini Dinamika Harga Cabai Jelang Lebaran 2026

Lonjakan permintaan dan faktor pasokan membuat harga cabai kembali menjadi perhatian menjelang Idulfitri Malang – Dalam lanskap kuliner Indonesia saat ini, sulit rasanya menemukan hidangan tanpa sentuhan pedas. Cabai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya makan masyarakat, mulai dari sambal rumahan hingga menu kuliner kekinian yang identik dengan sensasi pedas. Tidak berlebihan jika muncul ungkapan populer: siapa yang tidak suka cabai di zaman sekarang? Di balik popularitas tersebut, cabai juga dikenal sebagai salah satu komoditas pangan yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga, terutama menjelang momentum konsumsi besar seperti Ramadan dan Idulfitri. Lonjakan permintaan yang terjadi dalam waktu singkat seringkali memicu kenaikan harga di pasar. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa cabai terutama cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang paling sering memicu kenaikan harga pangan menjelang Lebaran. Komoditas ini bersama telur ayam ras dan daging ayam termasuk penyumbang utama perubahan harga pangan di berbagai daerah. Memasuki Maret 2026, harga cabai di pasar nasional memang masih berada pada level yang relatif tinggi. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai rawit merah sempat mencapai sekitar Rp85.100 per kilogram, sementara rata-rata nasional berada di kisaran Rp65.000–Rp78.000 per kilogram di tingkat eceran. Bahkan di beberapa wilayah, harga cabai rawit sempat menyentuh kisaran Rp90.000 per kilogram menjelang Idulfitri akibat meningkatnya permintaan pasar. Secara ekonomi agribisnis, fenomena kenaikan harga cabai menjelang Lebaran merupakan pola musiman yang cukup konsisten setiap tahun. Permintaan rumah tangga meningkat karena aktivitas memasak selama Ramadan dan tradisi penyajian berbagai hidangan khas Lebaran yang identik dengan bumbu pedas. Selain faktor permintaan, aspek produksi juga memengaruhi dinamika harga. Curah hujan tinggi dan gangguan panen di beberapa sentra produksi dapat menurunkan pasokan cabai ke pasar, sehingga harga lebih mudah berfluktuasi. Dalam perspektif akademik, cabai merupakan contoh nyata komoditas hortikultura yang memiliki elastisitas harga tinggi. Perubahan kecil pada sisi produksi atau distribusi dapat memberikan dampak signifikan terhadap harga di tingkat konsumen. Bagi kalangan akademisi, fenomena ini menjadi bahan kajian penting dalam studi agribisnis, terutama terkait manajemen rantai pasok, stabilitas harga pangan, dan strategi penguatan produksi hortikultura nasional. Sebagai salah satu program studi yang aktif mengkaji dinamika pasar pangan, Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong analisis ilmiah terhadap berbagai komoditas strategis, termasuk cabai. Pendekatan agribisnis yang komprehensif mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi penguatan sistem pangan nasional. Di tengah tren kuliner pedas yang semakin digemari masyarakat, cabai tidak sekadar menjadi bumbu dapur. Ia telah menjelma menjadi komoditas strategis yang merefleksikan dinamika ekonomi pangan Indonesia terutama saat momentum besar seperti Lebaran tiba.

Hangatkan Silaturahmi, Keluarga Besar Agribisnis UMM Gelar Buka Bersama

Momentum Ramadan dimaknai sebagai ruang mempererat kebersamaan civitas akademika Agribisnis UMM Malang – Suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa hangat dalam kegiatan buka bersama yang diselenggarakan oleh keluarga besar Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan yang diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat solidaritas di lingkungan akademik. Acara buka bersama tersebut berlangsung dalam nuansa Ramadan yang penuh kehangatan. Selain menjadi ajang berbagi kebersamaan, kegiatan ini juga dimaknai sebagai ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan akademik. Dalam sambutannya, pihak Program Studi Agribisnis UMM menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya bertujuan mempererat hubungan personal antar civitas akademika, tetapi juga membangun budaya akademik yang harmonis dan kolaboratif. Interaksi yang hangat di luar ruang kelas dinilai mampu memperkuat sinergi dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Buka bersama ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berinteraksi lebih dekat dengan para dosen serta tenaga kependidikan. Hubungan yang terjalin secara informal tersebut diharapkan mampu menciptakan atmosfer akademik yang lebih inklusif, komunikatif, dan suportif bagi seluruh mahasiswa Agribisnis UMM. Sebagai salah satu program studi yang terus berkembang di bidang ilmu agribisnis, Agribisnis UMM tidak hanya berkomitmen dalam penguatan kualitas akademik, tetapi juga dalam membangun kultur organisasi yang kuat. Nilai-nilai kebersamaan, kolaborasi, dan kekeluargaan menjadi bagian penting dalam membentuk lingkungan belajar yang kondusif dan produktif. Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, Agribisnis UMM kembali menegaskan bahwa penguatan hubungan antarsivitas akademika merupakan elemen penting dalam membangun institusi pendidikan yang unggul. Kebersamaan yang terjalin tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi energi positif dalam mendorong berbagai capaian akademik di masa mendatang. Dengan semangat Ramadan yang sarat nilai kebersamaan dan kepedulian, keluarga besar Agribisnis UMM berharap momentum ini dapat terus memperkuat solidaritas dan sinergi, sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam mengembangkan pendidikan agribisnis yang unggul dan berdaya saing.

Tips Makanan Sehat Ala Agribisnis UMM Saat Lebaran

Bijak memilih bahan pangan agar hidangan Idulfitri tetap lezat sekaligus menyehatkan Malang – Perayaan Idulfitri identik dengan berbagai hidangan khas yang menggugah selera. Ketupat, opor ayam, rendang, hingga aneka kue kering menjadi sajian yang hampir selalu hadir di meja makan. Namun di balik kelezatan tersebut, masyarakat juga perlu memperhatikan keseimbangan konsumsi pangan agar tetap sehat setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengingatkan pentingnya pola konsumsi yang bijak dengan memanfaatkan bahan pangan yang berkualitas dan bernutrisi. Pendekatan agribisnis tidak hanya berbicara tentang produksi dan distribusi pangan, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mengonsumsi pangan secara sehat, aman, dan berkelanjutan. Berikut beberapa tips makanan sehat ala Agribisnis UMM yang dapat diterapkan saat merayakan Lebaran: 1. Seimbangkan hidangan bersantan dengan sayur dan buahMenu khas Lebaran seperti opor ayam dan rendang umumnya mengandung santan dan lemak yang cukup tinggi. Agar tetap seimbang, konsumsi juga sayuran segar seperti lalapan, tumis sayur, atau buah-buahan yang kaya serat. Serat membantu menjaga sistem pencernaan tetap sehat setelah perubahan pola makan selama Ramadan. 2. Pilih bahan pangan segar dan berkualitasGunakan bahan pangan yang masih segar, terutama untuk komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan sayuran. Bahan pangan segar umumnya memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan bahan yang sudah lama disimpan. 3. Kurangi konsumsi gula berlebih dari kue keringKue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju memang menjadi favorit saat Lebaran. Namun konsumsi gula yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme. Batasi konsumsi kue manis dan imbangi dengan makanan yang lebih kaya protein dan serat. 4. Perhatikan porsi makanSetelah sebulan berpuasa, tubuh memerlukan adaptasi kembali terhadap pola makan normal. Mengatur porsi makan secara bertahap dapat membantu tubuh menyesuaikan diri dan mencegah gangguan pencernaan. 5. Variasikan sumber proteinSelain daging merah dan ayam, masyarakat juga dapat mengonsumsi sumber protein lain seperti telur, tempe, dan tahu. Diversifikasi pangan ini tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mendukung pemanfaatan komoditas pangan lokal. Dalam perspektif agribisnis, pola konsumsi yang sehat juga berkontribusi pada sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan produk pertanian lokal seperti sayuran, buah, dan pangan nabati dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung kesejahteraan petani. Sebagai institusi yang aktif mengkaji dinamika sektor pertanian dan pangan, Agribisnis UMM terus mendorong literasi konsumsi pangan sehat kepada masyarakat. Pendekatan ilmiah dalam pengelolaan pangan diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara kenikmatan kuliner khas Lebaran dengan kesehatan masyarakat. Dengan memilih bahan pangan secara bijak dan menjaga keseimbangan konsumsi, perayaan Idulfitri tidak hanya menjadi momen silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan gaya hidup sehat berbasis pangan lokal.

Komoditas Pangan Favorit Lebaran dan Bayang-Bayang Konflik Global

Lonjakan konsumsi menjelang Idulfitri berpotensi dipengaruhi dinamika geopolitik dan stabilitas rantai pasok pangan dunia Malang – Menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan terhadap berbagai komoditas pangan di Indonesia selalu mengalami peningkatan signifikan. Tradisi konsumsi masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran mendorong lonjakan permintaan pada sejumlah bahan pangan utama seperti beras, daging ayam ras, telur ayam, cabai, minyak goreng, serta bawang merah. Fenomena tersebut menjadi pola tahunan dalam sistem pangan nasional. Konsumsi rumah tangga meningkat seiring aktivitas memasak yang lebih intens, kebutuhan industri kuliner, serta meningkatnya produksi makanan khas Lebaran. Akibatnya, beberapa komoditas strategis sering mengalami tekanan harga akibat tingginya permintaan dalam waktu yang relatif singkat. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa komoditas pangan seperti telur ayam ras, daging ayam ras, cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng secara konsisten menjadi penyumbang fluktuasi harga menjelang Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, beras tetap menjadi komoditas paling dominan dalam konsumsi masyarakat Indonesia, mengingat posisinya sebagai makanan pokok utama. Dalam beberapa tahun terakhir, beras masih menjadi komoditas pangan dengan tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia. Berbagai kajian pangan nasional menunjukkan konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun, sehingga stabilitas produksi dan distribusinya sangat menentukan ketahanan pangan nasional. Namun demikian, dinamika pasar pangan domestik tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Perkembangan geopolitik global, termasuk konflik dan perang di beberapa wilayah dunia, turut memberi pengaruh terhadap stabilitas sistem pangan internasional. Konflik berskala global dapat memengaruhi perdagangan komoditas pangan, distribusi logistik internasional, hingga harga energi dan pupuk yang menjadi faktor penting dalam produksi pertanian. Sebagai contoh, konflik geopolitik yang melibatkan negara-negara produsen pangan dunia pernah memicu gangguan pasokan komoditas seperti gandum dan pupuk di pasar global. Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat berdampak pada negara-negara berkembang, terutama yang masih bergantung pada impor bahan pangan atau bahan baku pertanian. Dalam perspektif agribisnis, kondisi ini menegaskan pentingnya memperkuat sistem produksi pangan domestik serta meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional. Stabilitas pasokan pangan menjadi faktor krusial untuk menjaga keseimbangan antara permintaan masyarakat yang meningkat dengan ketersediaan komoditas di pasar. Sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu pertanian dan agribisnis, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong kajian akademik mengenai dinamika pasar pangan dan ketahanan sistem agribisnis nasional. Analisis berbasis data, riset komoditas strategis, serta penguatan literasi agribisnis menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam menghadapi tantangan pangan global yang semakin kompleks. Melalui pendekatan ilmiah yang integratif menggabungkan aspek produksi, distribusi, dan dinamika pasar Agribisnis UMM berkomitmen menghadirkan perspektif akademik yang tidak hanya relevan bagi dunia pendidikan, tetapi juga bagi pengambil kebijakan dan pelaku usaha di sektor agribisnis. Di tengah tantangan global yang semakin dinamis, penguatan sistem agribisnis nasional menjadi langkah strategis agar momentum konsumsi besar seperti Ramadan dan Idulfitri tetap dapat dihadapi dengan stabilitas pasokan dan harga pangan yang terjaga.

Pakar Agribisnis UMM Prediksi Permintaan Bawang di Jawa Timur Tetap Tinggi, Stabilitas Produksi Jadi Kunci

Permintaan Bawang Merah di Jawa Timur diprediksi Tetap Tinggi, didorong Konsumsi dan Dinamika Pasar Pangan Malang – Komoditas bawang merah diproyeksikan tetap menjadi salah satu komoditas hortikultura strategis di Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan yang stabil bahkan cenderung meningkat dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga, kebutuhan industri pangan, hingga dinamika distribusi antarwilayah. Pakar agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Ary Bakhtiar, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng, menilai bahwa bawang merah memiliki karakteristik pasar yang sangat dinamis namun tetap menunjukkan tren permintaan yang kuat, terutama di provinsi dengan aktivitas ekonomi dan populasi besar seperti Jawa Timur. Menurut Ary Bakhtiar, permintaan komoditas bawang merah tidak hanya ditopang oleh konsumsi domestik rumah tangga, tetapi juga oleh sektor kuliner, industri makanan olahan, serta distribusi antarprovinsi. “Secara struktural, bawang merah merupakan komoditas strategis dalam sistem pangan Indonesia. Permintaan relatif stabil bahkan meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan berkembangnya sektor jasa makanan,” ujarnya. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa bawang merah termasuk komoditas hortikultura utama nasional. Produksi nasional pada tahun 2024 mencapai sekitar 2,08 juta ton, dengan enam provinsi sentra utama menyumbang 91,6 persen dari total produksi nasional. Jawa Timur sendiri menempati posisi produsen terbesar kedua dengan kontribusi sekitar 22,86 persen terhadap produksi bawang merah nasional. Di tingkat regional, Jawa Timur juga dikenal sebagai salah satu basis produksi utama bawang merah. Kajian dalam jurnal agribisnis menunjukkan bahwa produksi bawang merah di Jawa Timur pada periode 2015–2020 memiliki rata-rata sekitar 352.908 ton per tahun, dengan tren produksi yang terus meningkat seiring meningkatnya permintaan pasar. Ary Bakhtiar menambahkan bahwa dinamika harga bawang merah seringkali menjadi indikator penting dalam ekonomi pangan daerah. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa perubahan harga komoditas hortikultura, termasuk bawang merah, memiliki kontribusi signifikan terhadap inflasi maupun deflasi di Jawa Timur. Ketika produksi menurun, harga cenderung meningkat dan mendorong inflasi; sebaliknya ketika pasokan melimpah, harga dapat turun dan memicu deflasi. Secara nasional, harga bawang merah juga menunjukkan tren fluktuatif namun tetap berada dalam rentang harga acuan pemerintah. Pada pertengahan 2025, rata-rata harga bawang merah tercatat sekitar Rp41.363 per kilogram, dengan kenaikan harga terjadi di lebih dari 41 persen wilayah Indonesia. Berdasarkan dinamika tersebut, Ary memprediksi bahwa permintaan bawang merah di Jawa Timur akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Namun demikian, stabilitas produksi dan efisiensi rantai pasok menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan pasar. “Ke depan, tantangan utama bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat sistem distribusi, logistik, serta efisiensi pemasaran. Dengan tata kelola agribisnis yang baik, Jawa Timur berpotensi menjadi pusat penguatan rantai pasok bawang merah nasional,” jelasnya. Pandangan tersebut juga menunjukkan pentingnya penguatan riset dan inovasi di sektor agribisnis. Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang terus mendorong kajian ilmiah dan analisis pasar komoditas strategis sebagai kontribusi akademik terhadap pembangunan sektor pertanian nasional. Melalui pendekatan ilmiah yang integratif menggabungkan analisis produksi, distribusi, serta dinamika pasar—para akademisi Agribisnis UMM berupaya menghadirkan perspektif berbasis data untuk mendukung kebijakan pangan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. “Peran perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghadirkan gagasan dan analisis yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan agribisnis nasional,” tutup Ary.

Menyiapkan Generasi Global: Agribisnis UMM Sambut Mahasiswa COE 2026 dengan Kurikulum Berorientasi Ekspor

Program Center of Excellence (COE) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang terus berkembang sebagai salah satu program unggulan yang mempersiapkan mahasiswa menjadi pelaku ekspor komoditas pertanian. Menjelang tahun akademik 2026, program studi Agribisnis mulai melakukan berbagai persiapan strategis untuk menyambut mahasiswa baru COE. Penguatan kurikulum, pengembangan jaringan industri, hingga peningkatan kapasitas pembelajaran menjadi fokus utama dalam program ini. COE dirancang sebagai kelas profesional yang menekankan penguasaan praktik bisnis global, terutama dalam bidang perdagangan internasional produk agribisnis. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori ekspor, tetapi juga memahami proses operasional perdagangan lintas negara. Sebagai bagian dari strategi pengembangan program, Agribisnis UMM juga memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai institusi dan perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor. Langkah ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif bagi mahasiswa, sehingga mereka memiliki pemahaman nyata tentang dinamika perdagangan global. Dengan persiapan yang matang, Agribisnis UMM optimistis program COE akan terus melahirkan generasi muda yang siap berkontribusi dalam pengembangan ekspor komoditas agribisnis Indonesia.